Aku baru saja bangun tidur siang. Ternyata sudah cukup lama semenjak ayah mampir ke mimpiku, bikin aku terbangun dengan emosi yang cukup bergolak.
Kian hari, semakin tak ada waktu aku tak memikirkannya. Aku tahu betul dan persis apa yang akan dikatakannya saat aku melewati jalan dengan medan yang rusak, nonton reality show duel masak, makan steak, tom yum, sushi, atau saluran TV apa yang akan diputarnya saat menginap di hotel.
Aku tahu ayahku sudah gak ada, tapi entah, aku masih ingin melihat sosoknya di antara keramaian. Di antara orang-orang yang tak aku kenali wajahnya. Berharap betul sosoknya mengamatiku dari jauh.
“If I could get another chance
Another walk
Another dance with him
I'd play a song that would never ever end
How I'd love, love, love
To dance with my father again”
Tempo hari aku baru saja mengunjungi kota kelahirannya untuk kedua kalinya. Saat kali pertama, aku sungguh gak tahu apakah aku bisa ke sana tanpa harus nangis. Aku gak pernah sama sekali ke sana tanpa ayahku. Ternyata memang gak bisa, tak terkecuali untuk kunjungan yang kedua.
Meski singkat, percakapan yang aku lakukan dengan kakak-adiknya, dan ibunya, bikin aku harus terus menahan air mata. Fitur-fitur wajah yang mereka miliki bikin aku makin kangen ayah.
Apa yang dikatakan nenekku saat kami ngobrol bikin aku gak fokus. Semua fitur wajah ayahku ada di dirinya. Alih-alih fokus merespons, aku kerap memalingkan wajah biar gak kelihatan lagi mau nangis. Di hotel, aku baru bisa meledak. Belum lagi aku memang menginap di hotel langganan tempat kami biasa singgah. Semua jejak dan kenangannya masih ada di sana.
Namun, semakin jauh aku mencari, semakin aku menyadari bahwa bayangannya ternyata tidak perlu jauh kucari.
Aku.
Belakangan, aku baru menyadari intonasi dan komentar yang kerap kulontarkan pada hal-hal kecil yang menyenangkan benar-benar cerminan dirinya. Sejauh apa pun aku mencarinya, ternyata sebagian dari dirinya ada pada diriku.
(´。• ◡ •。`) ♡

Post a Comment