Mindfulness, maksudnya.

Mengutip Oxford Languages, kewawasan diartikan sebagai keadaan mental di mana seseorang fokus pada apa yang terjadi di masa kini—the present—sambil menerima dan mengakui perasaan, pikiran, sensasi yang terjadi pada tubuh, dan ini digunakan sebagai teknik terapeutik. Kurasa masih satu makna dengan frasa ‘to live in the moment’.

Dengan dunia yang berubah sejak dua tahun terakhir, terlintas pertanyaan di benak, “Kapan terakhir kali aku benar-benar wawas dengan apa yang sedang kulakukan?”

Sejak 2019—terdengar sudah lama sekali, ya. Apalagi mengingat bahwa ini tahun sebelum pandemi ada—konsep tempat di mana aku kerja adalah remote working alias aku bisa bekerja dari mana pun aku mau. Jujur saja, aku memang gak membayangkan diriku jadi orang yang bisa terus-terusan melakukan hal repetitif saban hari; bangun pagi, sarapan, berangkat ke dan kerja di kantor, pulang, tidur, dan melakukan yang sama keesokan harinya. Aku juga orang yang biasa-biasa saja dalam melakukan hal, medioker, dan gak ambisius (soalnya ada temanku yang bilang aku ambisius, padahal gak juga. Aku cuma melakukan pekerjaanku dengan standar yang aku tentukan sendiri). 

Mendapatkan pekerjaan pertama dengan konsep remote working jadi mimpi yang terealisasikan bagiku saat itu. Aku cuma cukup standby di depan laptop dari jam sembilan pagi hingga lima sore, seperti kebanyakan kantor biasa. Orang bilang pekerjaanku enak soalnya cuma cukup diam di rumah tapi bisa tetap berpendapatan. Padahal kenyataannya, ternyata, gak semudah itu.

Aku mesti dihadapkan dengan atasan yang selain micromanaging punya banyak bendera merah. Aku masih ingat setiap jam sembilan yang kupikirkan hanya, “Bakal ada marah-marah apalagi hari ini?” Belum lagi perasaan berkecamuk dan gak keruan setiap aku mendengar notifikasi WhatsApp yang harus segera dibalas. Kalau nggak, dia bakal ceramahi aku dan yang lain secara virtual dan bertanya, “Kalian lagi ngapain, sih?! Balas pesan gak butuh lima menit, lo.” Hanya saja dalam bahasa Inggris dengan aksen Singapura. 

Ah, masih banyak unek-unek pada mantan—syukurlah sudah mantan—atasanku itu yang kalau aku jabarkan di sini pasti bakal panjang banget. Percayalah, ketika aku tahu ada orang seperti dia aku jadi percaya wujud orang yang penuh dengan bendera merah itu ada. Positifnya? Kami (re: aku dan teman-teman satu tim) jadi cukup tahan banting walau kewarasan kami pernah dikorbankan.

Saat bekerja, jangankan jalan-jalan ke sana ke mari. Ibuku suka bilang, "Menoleh pun gak bisa," karena aku kelewat fokus pada apa yang sedang aku kerjakan. Waktu itu, pekerjaan yang diembankan pada kami gak pernah jelas kapan tenggat waktunya. Terkadang dia mau hari itu juga selesai atau kalimat, “It doesn’t take one hour to work on that, guys,” terlontar. Belum lagi dia yang suka tiba-tiba, “Let’s get on a call.” Tujuannya? Only God knows. Mau ngasih tugas baru atau mau rewel kenapa tugas yang baru diberikannya gak kunjung selesai. On God, gimana mau selesai kalau tiap menit ditanya, “Sudah selesai belum?”

Kebiasaan yang aku bilang barusan bikin aku gak terlalu bisa menikmati hal yang kulakukan di luar pekerjaan. Sesederhana minum air, misalnya. Boro-boro mau menikmati betapa enaknya air putih yang kutenggak, ingat untuk berdiri kemudian mengambil minum juga aku sudah bersyukur. Jangankan bisa menikmati tiap kunyahan makan siang, ingat makan siang juga sudah untung. Hal begini kadang masih terbawa hingga aku menulis draf kiriman ini.

Makan donat enak dengan wawas di Kyomi Space

Selain backstory barusan, kurasa cepatnya informasi yang beredar via ponsel pintar dan adanya kecenderungan jadi FOMO juga jadi salah satu faktor kenapa kewawasanku terkikis. “Kapan terakhir kali aku benar-benar menikmati apa yang sedang kulakukan?” Ironisnya, pertanyaan itu muncul saat aku lagi makan sembari nonton TikTok karena aku merasa makanan yang saat itu kutelan cuma ‘sekadar lewat di tenggorokan’. Makanan itu gak  seenak saat aku benar-benar fokus bahwa aku sedang melakukan aktivitas makan. Segera kututup ponselku dan live in the present; tanpa gangguan, cuma aku dan makananku, dan kujamin rasa makanan itu seketika jadi berbeda dan gak sekadar lewat di tenggorokan.

Dengan hidupku yang berubah hampir 180 derajat (setelah menjadi istri orang), aku masih suka kaget dengan hal yang kujalani hingga hari ini. Singkat cerita, aku resign dari kantor sebelumnya dan kini aku kerja di tempat baru walau yang berubah cuma tugasnya karena aku masih remote working. Ketika di kantor sebelumnya aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali aku minum, di kantor kali ini bahkan aku bisa melakukan hal yang aku mau sambil bekerja. Gak ada juga huru-hara atau drama marah-marahnya atasan yang kerap ada tiap pagi dan bikin sibuk seharian.

Bisa live in the moment, seize the day, or whatever you may want to call it, jujur, terasa aneh (dalam konotasi positif) bagiku. Punya hobi baru yang bisa kukerjakan di sela-sela menunggu balasan talent, masak, atau menyiapkan suami berangkat ke kantor tanpa tiba-tiba di-mention via WhatsApp yang bikin perasaan gak karuan dan ngerjain segala sesuatunya jadi rusuh. Walau sekarang aku berada di mode zen, gak jarang juga aku masih mengerjakan segala sesuatu sambil sesekali mengecek ponsel karena masih ada remahan ketakutan dari yang pernah kualami sebelumnya.

Sekarang, aku pelan-pelan membuang semua sisa ketakutan ini karena aku gak perlu tiba-tiba diajak call yang isinya marah-marah gak perlu nan menguras energi itu. Gak perlu juga mengerjakan sesuatunya terburu-buru karena benar kata Haemin Sunim, there are things you can see only when you slow down, dan itu setidaknya jadi wawas. Jadi, kusarankan di dunia yang serba cepat ini, wawas agar tetap waras.

Kewawasan

October 05, 2022

,

Mindfulness, maksudnya.

Mengutip Oxford Languages, kewawasan diartikan sebagai keadaan mental di mana seseorang fokus pada apa yang terjadi di masa kini—the present—sambil menerima dan mengakui perasaan, pikiran, sensasi yang terjadi pada tubuh, dan ini digunakan sebagai teknik terapeutik. Kurasa masih satu makna dengan frasa ‘to live in the moment’.

Dengan dunia yang berubah sejak dua tahun terakhir, terlintas pertanyaan di benak, “Kapan terakhir kali aku benar-benar wawas dengan apa yang sedang kulakukan?”

Sejak 2019—terdengar sudah lama sekali, ya. Apalagi mengingat bahwa ini tahun sebelum pandemi ada—konsep tempat di mana aku kerja adalah remote working alias aku bisa bekerja dari mana pun aku mau. Jujur saja, aku memang gak membayangkan diriku jadi orang yang bisa terus-terusan melakukan hal repetitif saban hari; bangun pagi, sarapan, berangkat ke dan kerja di kantor, pulang, tidur, dan melakukan yang sama keesokan harinya. Aku juga orang yang biasa-biasa saja dalam melakukan hal, medioker, dan gak ambisius (soalnya ada temanku yang bilang aku ambisius, padahal gak juga. Aku cuma melakukan pekerjaanku dengan standar yang aku tentukan sendiri). 

Mendapatkan pekerjaan pertama dengan konsep remote working jadi mimpi yang terealisasikan bagiku saat itu. Aku cuma cukup standby di depan laptop dari jam sembilan pagi hingga lima sore, seperti kebanyakan kantor biasa. Orang bilang pekerjaanku enak soalnya cuma cukup diam di rumah tapi bisa tetap berpendapatan. Padahal kenyataannya, ternyata, gak semudah itu.

Aku mesti dihadapkan dengan atasan yang selain micromanaging punya banyak bendera merah. Aku masih ingat setiap jam sembilan yang kupikirkan hanya, “Bakal ada marah-marah apalagi hari ini?” Belum lagi perasaan berkecamuk dan gak keruan setiap aku mendengar notifikasi WhatsApp yang harus segera dibalas. Kalau nggak, dia bakal ceramahi aku dan yang lain secara virtual dan bertanya, “Kalian lagi ngapain, sih?! Balas pesan gak butuh lima menit, lo.” Hanya saja dalam bahasa Inggris dengan aksen Singapura. 

Ah, masih banyak unek-unek pada mantan—syukurlah sudah mantan—atasanku itu yang kalau aku jabarkan di sini pasti bakal panjang banget. Percayalah, ketika aku tahu ada orang seperti dia aku jadi percaya wujud orang yang penuh dengan bendera merah itu ada. Positifnya? Kami (re: aku dan teman-teman satu tim) jadi cukup tahan banting walau kewarasan kami pernah dikorbankan.

Saat bekerja, jangankan jalan-jalan ke sana ke mari. Ibuku suka bilang, "Menoleh pun gak bisa," karena aku kelewat fokus pada apa yang sedang aku kerjakan. Waktu itu, pekerjaan yang diembankan pada kami gak pernah jelas kapan tenggat waktunya. Terkadang dia mau hari itu juga selesai atau kalimat, “It doesn’t take one hour to work on that, guys,” terlontar. Belum lagi dia yang suka tiba-tiba, “Let’s get on a call.” Tujuannya? Only God knows. Mau ngasih tugas baru atau mau rewel kenapa tugas yang baru diberikannya gak kunjung selesai. On God, gimana mau selesai kalau tiap menit ditanya, “Sudah selesai belum?”

Kebiasaan yang aku bilang barusan bikin aku gak terlalu bisa menikmati hal yang kulakukan di luar pekerjaan. Sesederhana minum air, misalnya. Boro-boro mau menikmati betapa enaknya air putih yang kutenggak, ingat untuk berdiri kemudian mengambil minum juga aku sudah bersyukur. Jangankan bisa menikmati tiap kunyahan makan siang, ingat makan siang juga sudah untung. Hal begini kadang masih terbawa hingga aku menulis draf kiriman ini.

Makan donat enak dengan wawas di Kyomi Space

Selain backstory barusan, kurasa cepatnya informasi yang beredar via ponsel pintar dan adanya kecenderungan jadi FOMO juga jadi salah satu faktor kenapa kewawasanku terkikis. “Kapan terakhir kali aku benar-benar menikmati apa yang sedang kulakukan?” Ironisnya, pertanyaan itu muncul saat aku lagi makan sembari nonton TikTok karena aku merasa makanan yang saat itu kutelan cuma ‘sekadar lewat di tenggorokan’. Makanan itu gak  seenak saat aku benar-benar fokus bahwa aku sedang melakukan aktivitas makan. Segera kututup ponselku dan live in the present; tanpa gangguan, cuma aku dan makananku, dan kujamin rasa makanan itu seketika jadi berbeda dan gak sekadar lewat di tenggorokan.

Dengan hidupku yang berubah hampir 180 derajat (setelah menjadi istri orang), aku masih suka kaget dengan hal yang kujalani hingga hari ini. Singkat cerita, aku resign dari kantor sebelumnya dan kini aku kerja di tempat baru walau yang berubah cuma tugasnya karena aku masih remote working. Ketika di kantor sebelumnya aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali aku minum, di kantor kali ini bahkan aku bisa melakukan hal yang aku mau sambil bekerja. Gak ada juga huru-hara atau drama marah-marahnya atasan yang kerap ada tiap pagi dan bikin sibuk seharian.

Bisa live in the moment, seize the day, or whatever you may want to call it, jujur, terasa aneh (dalam konotasi positif) bagiku. Punya hobi baru yang bisa kukerjakan di sela-sela menunggu balasan talent, masak, atau menyiapkan suami berangkat ke kantor tanpa tiba-tiba di-mention via WhatsApp yang bikin perasaan gak karuan dan ngerjain segala sesuatunya jadi rusuh. Walau sekarang aku berada di mode zen, gak jarang juga aku masih mengerjakan segala sesuatu sambil sesekali mengecek ponsel karena masih ada remahan ketakutan dari yang pernah kualami sebelumnya.

Sekarang, aku pelan-pelan membuang semua sisa ketakutan ini karena aku gak perlu tiba-tiba diajak call yang isinya marah-marah gak perlu nan menguras energi itu. Gak perlu juga mengerjakan sesuatunya terburu-buru karena benar kata Haemin Sunim, there are things you can see only when you slow down, dan itu setidaknya jadi wawas. Jadi, kusarankan di dunia yang serba cepat ini, wawas agar tetap waras.

Pemandangan malam Yogyakarta

Voy a apagar la luz para pensar en ti
Y así dejar volar a mi imaginación
Ahí donde todo lo puedo donde no hay imposibles
Que importa vivir de ilusiones si así soy feliz

“Sungguh. Kau ke mana saja, sih?” kalimat itu begitu saja meluncur dari mulutku sambil kusibakkan rambutnya yang ikal ke belakang telinganya. Ia lekas mengerjap menatapku, menembus gelap. Kurasa dia bingung. Matanya seolah bicara memberitahu ia sedang menerjemahkan kalimatku barusan, kemudian tersenyum. Senyum manis itu.

Wangi perempuan di hadapanku ini menyeruak menggelitik hidungku nikmat. Aku jenuh dengan keseharianku yang bau handschoen lateks dan antiseptik—tapi pertanda bagus karena berarti hidungku tak lagi anosmia. Lambat laun kusadari wangi yang jadi karakteristiknya ini tak lain bunga mawar yang diikuti sedikit aroma peony dengan secercah wangi buah. Entah bagaimana harus kudeskripsikan. Yang jelas, aku hanya ingin menciuminya.

¿Cómo te abrazaré? ¿Cuánto te besaré?
Mis más ardientes anhelos en ti realizar
Te morderé los labios, me llenaré de ti
Y por eso voy a apagar la luz
Para pensar en tí

Aku menyentuh bibirnya yang lembut nan hangat dan kudekap badan mungilnya biar cuma aku yang menyelimutinya. Dia menggeliat aman. “Baguslah,” aku tersenyum tipis. Aku tak ingin duvet ini membalut milikku.

✧・゚: *✧・゚:*    *:・゚✧*:・゚✧


Contigo aprendí
Que existen nuevas y mejores emociones
Contigo aprendí
A conocer un mundo nuevo de ilusiones

Aku bukan seorang yang terbilang beruntung dalam menjalin kasih di masa lalu. Bukan sekali dua kali juga aku berikrar kalau aku lebih baik menyendiri dulu sementara. Sudah cukup terkuras habis emosiku. Psikeku berkata lejar. 

Namun dengannya, aku tak tahu, dan jangan terjemahkan itu secara letterlijk. Kurasa semua orang pernah sampai di titik kehabisan kata-kata dan bingung hingga hanya ketidaktahuan yang tersisa. Aku tak tahu mengapa aku bisa mempercayai dirinya untuk mempercayai diriku. Aku perempuan yang sulit. Yang kutahu, ada jenis perasaan baru yang tumbuh. Di titik ini, kurasa frasa “waktu sembuhkan” nyata adanya.

Aprendí
Que la semana tiene mas de siete días
A hacer mayores mis contadas alegrías
Y a ser dichoso yo contigo lo aprendí

Kakinya yang berukuran empat angka lebih besar dariku terasa dingin. Apakah AC yang kunyalakan terlalu dingin buatnya? Ah, tapi dia tak pernah masalah dengan itu. Ke mana juga metari? Kulihat dari jauh gorden yang sedikit tersingkap. “Belum ada tanda-tanda ia bakal muncul,” batinku. Atau, lebih baik tak usah biar aku tetap seperti ini dua puluh empat tujuh.

Kuharap dia juga sama.

✧・゚: *✧・゚:*    *:・゚✧*:・゚✧

Contigo aprendí
A ver la luz del otro lado de la luna
Contigo aprendí
Que tu presencia no la cambio por ninguna

“Sheldon?” suara asing terdengar dari arah punggungku.

“Ya?” terkejut, aku menoleh. Bingung. Entah sudah berapa lama perempuan ini berdiri di belakangku hingga ia bisa menebak apa yang sedang kubaca.

Perempuan itu mengernyit memicingkan mata, menatapku lekat dari ujung rambut yang aku lupa pakaikan gel pagi ini hingga sneakers Nike hitam kesukaanku. “Serius kau baca Sheldon?” tanyanya lagi dengan nada tak percaya.

Aku mengangkat bahu, “Pertama kali.”

Ia tergesa berjalan ke sofa kosong di hadapanku, melirik kanan dan kiri seolah mencari seseorang. Perkiraanku salah karena kemudian ia bertanya, “Kau sendirian?”

Percakapan yang aneh. Sebelumnya tak pernah ada yang iseng mengajakku ngobrol di tempat umum seperti ini. Orang bilang wajahku terlalu dingin untuk diajak bicara, pun dengan teman sendiri. Terlebih, perempuan ini orang asing.

“Kau sendirian juga? Duduk saja di situ,” kalimat aneh juga yang kulontarkan. Ia menjawab pertanyaanku dengan benar-benar duduk di sofa itu. Luar biasa. Kini aku duduk dengan seorang yang entah siapa. Aku menunduk, mencari alinea mana yang barusan kutinggal. Kubiarkan dia sementara aku mencoba terlena memasuki jagat cerita.

“Beli di mana?” tanyanya tiba-tiba. “Apa yang di mana?” Aku tak lagi bisa membaca dengan khidmat. Kututup buku dan mencoba melihat lebih jelas perempuan di hadapanku ini. Rambutnya diikat dengan gaya messy bun dan ia membiarkan anak rambutnya terjatuh begitu saja. Wangi bunga segar terpancar dari badannya.

“Novel itu kan sudah jarang yang jual,” ucapnya, lantas menyesap minuman yang dibawanya. Di gelas plastiknya tertulis vanilla latte. Kutebak dia bukan penikmat kopi pahit.

“Ah, ya. Ini koleksi lama milik ayahku. Kau suka juga?” tanyaku sambil mendorong buku itu ke hadapannya. Ia menatap yang kusodorkan, “Aku suka juga. Sebetulnya aku baru dua membaca dua karyanya dan terkesima, jatuh cinta, dengan apa yang ia ceritakan. Kok bisa, ya?” 

“Kau tahu,” sambungnya, ”Aku tak tahu dengan yang lain, tapi tahu tidak kesamaan Are You Afraid of the Dark dan Windmills of the Gods? Dia bisa menceritakan banyak hal terperinci dengan sudut pandang dan insting wanita. Gila.”

Aku tak tanya siapa namanya karena aku sudah tahu dari gelas plastiknya itu. Ia bercerita bagaimana sulitnya ia mencari karya Sheldon daring maupun luring. Belum lagi ceritanya yang mencoba menjelajahi toko-toko buku bekas dengan harapan bisa membawa pulang bacaan baru. Nihil, katanya. Yang dia dapat cuma bola-bola ubi di pinggir jalan yang kulitnya tipis hingga dia bisa melahapnya dalam porsi banyak. Entah apa hubungannya.

“Kau dokter, ya?” pertanyaannya di luar apa yang sedang dia bahas. Aku terkesiap, “Kok tahu?” Seingatku aku belum memperkenalkan diri. “Jarimu. Koreksi aku, tapi setahuku jarang dokter membiarkan kukunya panjang atau sarung tangannya bakal gampang robek.”

Ingar bingar mal ini senyap seketika aku mendengarnya berbicara. Ia seolah mengajariku melihat sisi lain bulan.

Aprendí
Que puede un beso ser mas dulce y mas profundo
Que puedo irme mañana mismo de este mundo
Las cosas buenas ya contigo las viví

Si perempuan vanilla latte itu kini berbaring di sebelahku. Matanya menerawang, entah apa yang sedang ia pikirkan. Bola-bola ubi berkulit tipis? Anak kucing yang tempo hari ia tangisi karena tak bisa ia bawa pulang? Atau makramenya yang belum ia selesaikan? Pikirannya tak pernah bisa ku tebak.

Aku menatapnya lekat yang tentunya tak ia indahkan. “Sungguh cantik,” pikirku. Di nirwana nanti, benarkah aku cuma akan dipertemukan dengan para bidadari? Tak bisakah mereka engkau?

✧・゚: *✧・゚:*    *:・゚✧*:・゚✧

Y contigo aprendí
Que yo nací el día que te conocí

“Aku akan selalu ada,” tetiba dia berkata, menjawab harapan dan pertanyaanku.

(´。• •。`) ♡

Terinspirasi dari Luis Miguel - Voy a Apagar La Luz / Contigo Aprendí

With You I Learned

March 20, 2022

Pemandangan malam Yogyakarta

Voy a apagar la luz para pensar en ti
Y así dejar volar a mi imaginación
Ahí donde todo lo puedo donde no hay imposibles
Que importa vivir de ilusiones si así soy feliz

“Sungguh. Kau ke mana saja, sih?” kalimat itu begitu saja meluncur dari mulutku sambil kusibakkan rambutnya yang ikal ke belakang telinganya. Ia lekas mengerjap menatapku, menembus gelap. Kurasa dia bingung. Matanya seolah bicara memberitahu ia sedang menerjemahkan kalimatku barusan, kemudian tersenyum. Senyum manis itu.

Wangi perempuan di hadapanku ini menyeruak menggelitik hidungku nikmat. Aku jenuh dengan keseharianku yang bau handschoen lateks dan antiseptik—tapi pertanda bagus karena berarti hidungku tak lagi anosmia. Lambat laun kusadari wangi yang jadi karakteristiknya ini tak lain bunga mawar yang diikuti sedikit aroma peony dengan secercah wangi buah. Entah bagaimana harus kudeskripsikan. Yang jelas, aku hanya ingin menciuminya.

¿Cómo te abrazaré? ¿Cuánto te besaré?
Mis más ardientes anhelos en ti realizar
Te morderé los labios, me llenaré de ti
Y por eso voy a apagar la luz
Para pensar en tí

Aku menyentuh bibirnya yang lembut nan hangat dan kudekap badan mungilnya biar cuma aku yang menyelimutinya. Dia menggeliat aman. “Baguslah,” aku tersenyum tipis. Aku tak ingin duvet ini membalut milikku.

✧・゚: *✧・゚:*    *:・゚✧*:・゚✧


Contigo aprendí
Que existen nuevas y mejores emociones
Contigo aprendí
A conocer un mundo nuevo de ilusiones

Aku bukan seorang yang terbilang beruntung dalam menjalin kasih di masa lalu. Bukan sekali dua kali juga aku berikrar kalau aku lebih baik menyendiri dulu sementara. Sudah cukup terkuras habis emosiku. Psikeku berkata lejar. 

Namun dengannya, aku tak tahu, dan jangan terjemahkan itu secara letterlijk. Kurasa semua orang pernah sampai di titik kehabisan kata-kata dan bingung hingga hanya ketidaktahuan yang tersisa. Aku tak tahu mengapa aku bisa mempercayai dirinya untuk mempercayai diriku. Aku perempuan yang sulit. Yang kutahu, ada jenis perasaan baru yang tumbuh. Di titik ini, kurasa frasa “waktu sembuhkan” nyata adanya.

Aprendí
Que la semana tiene mas de siete días
A hacer mayores mis contadas alegrías
Y a ser dichoso yo contigo lo aprendí

Kakinya yang berukuran empat angka lebih besar dariku terasa dingin. Apakah AC yang kunyalakan terlalu dingin buatnya? Ah, tapi dia tak pernah masalah dengan itu. Ke mana juga metari? Kulihat dari jauh gorden yang sedikit tersingkap. “Belum ada tanda-tanda ia bakal muncul,” batinku. Atau, lebih baik tak usah biar aku tetap seperti ini dua puluh empat tujuh.

Kuharap dia juga sama.

✧・゚: *✧・゚:*    *:・゚✧*:・゚✧

Contigo aprendí
A ver la luz del otro lado de la luna
Contigo aprendí
Que tu presencia no la cambio por ninguna

“Sheldon?” suara asing terdengar dari arah punggungku.

“Ya?” terkejut, aku menoleh. Bingung. Entah sudah berapa lama perempuan ini berdiri di belakangku hingga ia bisa menebak apa yang sedang kubaca.

Perempuan itu mengernyit memicingkan mata, menatapku lekat dari ujung rambut yang aku lupa pakaikan gel pagi ini hingga sneakers Nike hitam kesukaanku. “Serius kau baca Sheldon?” tanyanya lagi dengan nada tak percaya.

Aku mengangkat bahu, “Pertama kali.”

Ia tergesa berjalan ke sofa kosong di hadapanku, melirik kanan dan kiri seolah mencari seseorang. Perkiraanku salah karena kemudian ia bertanya, “Kau sendirian?”

Percakapan yang aneh. Sebelumnya tak pernah ada yang iseng mengajakku ngobrol di tempat umum seperti ini. Orang bilang wajahku terlalu dingin untuk diajak bicara, pun dengan teman sendiri. Terlebih, perempuan ini orang asing.

“Kau sendirian juga? Duduk saja di situ,” kalimat aneh juga yang kulontarkan. Ia menjawab pertanyaanku dengan benar-benar duduk di sofa itu. Luar biasa. Kini aku duduk dengan seorang yang entah siapa. Aku menunduk, mencari alinea mana yang barusan kutinggal. Kubiarkan dia sementara aku mencoba terlena memasuki jagat cerita.

“Beli di mana?” tanyanya tiba-tiba. “Apa yang di mana?” Aku tak lagi bisa membaca dengan khidmat. Kututup buku dan mencoba melihat lebih jelas perempuan di hadapanku ini. Rambutnya diikat dengan gaya messy bun dan ia membiarkan anak rambutnya terjatuh begitu saja. Wangi bunga segar terpancar dari badannya.

“Novel itu kan sudah jarang yang jual,” ucapnya, lantas menyesap minuman yang dibawanya. Di gelas plastiknya tertulis vanilla latte. Kutebak dia bukan penikmat kopi pahit.

“Ah, ya. Ini koleksi lama milik ayahku. Kau suka juga?” tanyaku sambil mendorong buku itu ke hadapannya. Ia menatap yang kusodorkan, “Aku suka juga. Sebetulnya aku baru dua membaca dua karyanya dan terkesima, jatuh cinta, dengan apa yang ia ceritakan. Kok bisa, ya?” 

“Kau tahu,” sambungnya, ”Aku tak tahu dengan yang lain, tapi tahu tidak kesamaan Are You Afraid of the Dark dan Windmills of the Gods? Dia bisa menceritakan banyak hal terperinci dengan sudut pandang dan insting wanita. Gila.”

Aku tak tanya siapa namanya karena aku sudah tahu dari gelas plastiknya itu. Ia bercerita bagaimana sulitnya ia mencari karya Sheldon daring maupun luring. Belum lagi ceritanya yang mencoba menjelajahi toko-toko buku bekas dengan harapan bisa membawa pulang bacaan baru. Nihil, katanya. Yang dia dapat cuma bola-bola ubi di pinggir jalan yang kulitnya tipis hingga dia bisa melahapnya dalam porsi banyak. Entah apa hubungannya.

“Kau dokter, ya?” pertanyaannya di luar apa yang sedang dia bahas. Aku terkesiap, “Kok tahu?” Seingatku aku belum memperkenalkan diri. “Jarimu. Koreksi aku, tapi setahuku jarang dokter membiarkan kukunya panjang atau sarung tangannya bakal gampang robek.”

Ingar bingar mal ini senyap seketika aku mendengarnya berbicara. Ia seolah mengajariku melihat sisi lain bulan.

Aprendí
Que puede un beso ser mas dulce y mas profundo
Que puedo irme mañana mismo de este mundo
Las cosas buenas ya contigo las viví

Si perempuan vanilla latte itu kini berbaring di sebelahku. Matanya menerawang, entah apa yang sedang ia pikirkan. Bola-bola ubi berkulit tipis? Anak kucing yang tempo hari ia tangisi karena tak bisa ia bawa pulang? Atau makramenya yang belum ia selesaikan? Pikirannya tak pernah bisa ku tebak.

Aku menatapnya lekat yang tentunya tak ia indahkan. “Sungguh cantik,” pikirku. Di nirwana nanti, benarkah aku cuma akan dipertemukan dengan para bidadari? Tak bisakah mereka engkau?

✧・゚: *✧・゚:*    *:・゚✧*:・゚✧

Y contigo aprendí
Que yo nací el día que te conocí

“Aku akan selalu ada,” tetiba dia berkata, menjawab harapan dan pertanyaanku.

(´。• •。`) ♡

Terinspirasi dari Luis Miguel - Voy a Apagar La Luz / Contigo Aprendí

Menjadi pengguna media sosial yang cukup aktif bikin aku melek terhadap isu yang lagi gemar diangkat warganet. Walau gak semua isu aku ikuti—karena beberapa terlalu pelik dan menimbulkan adu kicau. Lebih baik jauh-jauh dari hal seperti itu, cuma bikin capek hati. Membatasi diri atau gak main medsos mungkin lebih bagus, justru—pasti ada satu dua isu yang diiringi budaya pengenyahan.

Hematku, budaya pengenyahan ini adalah salah satu cara modern untuk mengucilkan seseorang (biasanya figur publik) karena perilaku atau pendapatnya yang dianggap fatal dan kontroversial bagi khalayak. Gak jarang, budaya ini bisa dengan cepat melenyapkan karier seseorang.

Lantas, apakah budaya pengenyahan ini sesuatu yang positif atau negatif?

Aku seringnya menganggap kalau sesuatu itu relatif, tidak eksak, abu-abu, tidak bisa digeneralisir. Jadi ya, kurasa memang diperlukan ketika pelaku melakukan sesuatu yang tidak lagi bisa ditoleransi. Gerakan #MeToo yang lagi-lagi mencuat karena pelecehan seksual yang dilakukan seorang artis asal Tiongkok, misalnya (bukannya aku tak ingin menyebut nama-nama pelaku di sini. Aku cuma mau main aman). Dampak yang mengekor pun dahsyat, dia dihantam habis-habisan; ia dienyahkan dari platform medsos Tiongkok, situs aliran musik, dan kurasa nihil usahanya kalau dia mau muncul lagi ke dunia hiburan.

Walau begitu, terkadang ada mob mentality terhadap budaya ini, alias mereka dengan mental ikut-ikutan tanpa mengetahui apa duduk perkara utamanya. Namun begitu, di sisi lain mob mentality juga mungkin bisa saja turut menyukseskan pengenyahan yang seharusnya jadi ganjaran pelaku. Tetap saja, akan lebih baik kalau melakukan aksi pengenyahan ini dengan didasari dan atas kemauan sendiri, bukan karena FOMO. “Harus punya pendirian,” demikian ibuku bilang kala ia kesal mendengar kata “terserah” sebagai jawaban. Kurasa bisa diterapkan juga dalam situasi seperti ini.



Yang mau kubahas di kiriman kali ini adalah bagaimana senewennya aku karena tampaknya di tempat kita tinggal ini budaya pengenyahan tidak tereksekusi dengan terlalu baik (tentu saja kalau dilakukan jangan sampai salah sasaran. Makanya barusan aku bilang harus punya pendirian dan harus bisa lihat dari berbagai kacamata. Harus bisa jadi orang bijak dalam mengambil tindakan).

Sebutlah si penyanyi dangdut yang kemarin baru bebas dari penjara. Media malah mengglorifikasi kebebasannya setelah kasus pedofilia yang dilakukannya, entah apa maksudnya. Atau, seseorang yang kemarin tak dipenjara karena disebut-sebut ‘sopan dan berhak bahagia’, kini mulai terlihat aktif kembali di medsosnya karena mereka yang masih dalam lingkar pertemanan yang sama terlihat memberikan dukungan terhadap orang tersebut.

Pertanyaanku: bagaimana bisa kita ingin tak melihat para pelaku kesalahan ini tak muncul lagi di layar jika yang ‘membuat pelaku kembali’ masih mereka-mereka juga yang punya kekuatan atas eksposur yang hebat?

Akan baik jadinya kalau kita punya stance atau cara kita mengambil sikap terhadap orang-orang ini. Ketika mereka berbuat sesuatu, kita mesti lihat siapa korbannya dan efek apa yang ditimbulkan atas perilaku mereka; seperti yang terjadi pada aktor asal Korea Selatan kemarin yang membuat gaduh atas isu gaslighting dan aborsi terhadap pacarnya (meski pada akhirnya si aktorlah korbannya). Walau kecewa, orang-orang berbondong memberikan dukungan pada si pacar aktor karena saat itu khalayak cuma tahu kalau si pacar adalah korban. Demi menjunjung integritas, beberapa merek yang bekerja sama dengan si aktor pun (untuk sementara waktu) menghapus kiriman dengan wajah si aktor yang terpampang nyata. Tindakan seperti inilah yang menjadi hulu dari pengenyahan.

Sementara pada kasus yang ada di negara kita (terkesan hiperbolis, tapi begitu adanya), jangankan mengambil tindakan seperti yang kusebutkan di atas. Gak jarang, ada beberapa merek yang malah mengambil kesempatan ini untuk bekerja sama dengan si pelaku karena sedang ramai diperbincangkan demi meningkatkan eksposur. Sebuah strategi yang gak berpendirian, gak kritis, gak memikirkan value-nya, dan bikin aku gak habis pikir.

Untungnya, beberapa orang sudah paham betul dan bisa mengambil sikap apa yang harus dilakukan jika ada kasus seperti ini. Beberapa sudah memahami pentingnya punya sudut pandang dan mengambil sisi yang mereka rasa benar. Terkadang ada juga yang didasari alasan terlalu penat melihat kelakuan si pelaku sehingga mereka telanjur ilfeel dan dengan begitu saja tak lagi mengindahkannya. Aku pun mencoba mengambil jarak pada si pelaku dan siapa-siapa saja yang malah memberikan dukungan pada si empunya salah. Sudah saatnya kukira kita bisa mengambil sikap dan memberikan ganjaran (setidaknya dalam spektrum sosial, tapi tetap bedakan dengan perundungan, ya. Mengenyahkan tidak sama dengan merundung) yang tepat.

Penafian: Perlu diingat kiriman ini cuma berdasar opiniku saja, ya. Sangat boleh kalau teman-teman yang baca punya pendapat berbeda. Gambar juga cuma pemanis, tapi kurasa cukup cocok dengan tema yang kuangkat kali ini. Si pelaku dienyahkan, sendiri, jauh dari keramaian, dan harus memasuki pintu keberangkatan dari jagat yang semula ia tinggali.


(´。• •。`) ♡

Budaya Pengenyahan

January 16, 2022

Menjadi pengguna media sosial yang cukup aktif bikin aku melek terhadap isu yang lagi gemar diangkat warganet. Walau gak semua isu aku ikuti—karena beberapa terlalu pelik dan menimbulkan adu kicau. Lebih baik jauh-jauh dari hal seperti itu, cuma bikin capek hati. Membatasi diri atau gak main medsos mungkin lebih bagus, justru—pasti ada satu dua isu yang diiringi budaya pengenyahan.

Hematku, budaya pengenyahan ini adalah salah satu cara modern untuk mengucilkan seseorang (biasanya figur publik) karena perilaku atau pendapatnya yang dianggap fatal dan kontroversial bagi khalayak. Gak jarang, budaya ini bisa dengan cepat melenyapkan karier seseorang.

Lantas, apakah budaya pengenyahan ini sesuatu yang positif atau negatif?

Aku seringnya menganggap kalau sesuatu itu relatif, tidak eksak, abu-abu, tidak bisa digeneralisir. Jadi ya, kurasa memang diperlukan ketika pelaku melakukan sesuatu yang tidak lagi bisa ditoleransi. Gerakan #MeToo yang lagi-lagi mencuat karena pelecehan seksual yang dilakukan seorang artis asal Tiongkok, misalnya (bukannya aku tak ingin menyebut nama-nama pelaku di sini. Aku cuma mau main aman). Dampak yang mengekor pun dahsyat, dia dihantam habis-habisan; ia dienyahkan dari platform medsos Tiongkok, situs aliran musik, dan kurasa nihil usahanya kalau dia mau muncul lagi ke dunia hiburan.

Walau begitu, terkadang ada mob mentality terhadap budaya ini, alias mereka dengan mental ikut-ikutan tanpa mengetahui apa duduk perkara utamanya. Namun begitu, di sisi lain mob mentality juga mungkin bisa saja turut menyukseskan pengenyahan yang seharusnya jadi ganjaran pelaku. Tetap saja, akan lebih baik kalau melakukan aksi pengenyahan ini dengan didasari dan atas kemauan sendiri, bukan karena FOMO. “Harus punya pendirian,” demikian ibuku bilang kala ia kesal mendengar kata “terserah” sebagai jawaban. Kurasa bisa diterapkan juga dalam situasi seperti ini.



Yang mau kubahas di kiriman kali ini adalah bagaimana senewennya aku karena tampaknya di tempat kita tinggal ini budaya pengenyahan tidak tereksekusi dengan terlalu baik (tentu saja kalau dilakukan jangan sampai salah sasaran. Makanya barusan aku bilang harus punya pendirian dan harus bisa lihat dari berbagai kacamata. Harus bisa jadi orang bijak dalam mengambil tindakan).

Sebutlah si penyanyi dangdut yang kemarin baru bebas dari penjara. Media malah mengglorifikasi kebebasannya setelah kasus pedofilia yang dilakukannya, entah apa maksudnya. Atau, seseorang yang kemarin tak dipenjara karena disebut-sebut ‘sopan dan berhak bahagia’, kini mulai terlihat aktif kembali di medsosnya karena mereka yang masih dalam lingkar pertemanan yang sama terlihat memberikan dukungan terhadap orang tersebut.

Pertanyaanku: bagaimana bisa kita ingin tak melihat para pelaku kesalahan ini tak muncul lagi di layar jika yang ‘membuat pelaku kembali’ masih mereka-mereka juga yang punya kekuatan atas eksposur yang hebat?

Akan baik jadinya kalau kita punya stance atau cara kita mengambil sikap terhadap orang-orang ini. Ketika mereka berbuat sesuatu, kita mesti lihat siapa korbannya dan efek apa yang ditimbulkan atas perilaku mereka; seperti yang terjadi pada aktor asal Korea Selatan kemarin yang membuat gaduh atas isu gaslighting dan aborsi terhadap pacarnya (meski pada akhirnya si aktorlah korbannya). Walau kecewa, orang-orang berbondong memberikan dukungan pada si pacar aktor karena saat itu khalayak cuma tahu kalau si pacar adalah korban. Demi menjunjung integritas, beberapa merek yang bekerja sama dengan si aktor pun (untuk sementara waktu) menghapus kiriman dengan wajah si aktor yang terpampang nyata. Tindakan seperti inilah yang menjadi hulu dari pengenyahan.

Sementara pada kasus yang ada di negara kita (terkesan hiperbolis, tapi begitu adanya), jangankan mengambil tindakan seperti yang kusebutkan di atas. Gak jarang, ada beberapa merek yang malah mengambil kesempatan ini untuk bekerja sama dengan si pelaku karena sedang ramai diperbincangkan demi meningkatkan eksposur. Sebuah strategi yang gak berpendirian, gak kritis, gak memikirkan value-nya, dan bikin aku gak habis pikir.

Untungnya, beberapa orang sudah paham betul dan bisa mengambil sikap apa yang harus dilakukan jika ada kasus seperti ini. Beberapa sudah memahami pentingnya punya sudut pandang dan mengambil sisi yang mereka rasa benar. Terkadang ada juga yang didasari alasan terlalu penat melihat kelakuan si pelaku sehingga mereka telanjur ilfeel dan dengan begitu saja tak lagi mengindahkannya. Aku pun mencoba mengambil jarak pada si pelaku dan siapa-siapa saja yang malah memberikan dukungan pada si empunya salah. Sudah saatnya kukira kita bisa mengambil sikap dan memberikan ganjaran (setidaknya dalam spektrum sosial, tapi tetap bedakan dengan perundungan, ya. Mengenyahkan tidak sama dengan merundung) yang tepat.

Penafian: Perlu diingat kiriman ini cuma berdasar opiniku saja, ya. Sangat boleh kalau teman-teman yang baca punya pendapat berbeda. Gambar juga cuma pemanis, tapi kurasa cukup cocok dengan tema yang kuangkat kali ini. Si pelaku dienyahkan, sendiri, jauh dari keramaian, dan harus memasuki pintu keberangkatan dari jagat yang semula ia tinggali.


(´。• •。`) ♡
One Chocolate Eater