posts in Thoughts
show all posts
Beberapa waktu yang lalu aku menghadiri pernikahan temanku. Apa mau dikata, umur segini memang sudah saatnya aku mendapati berita bahagia seperti lamaran, pernikahan, lahiran, hingga melihat unggahan bangganya teman-temanku yang sudah menjadi ayah atau ibu mengenai perkembangan anaknya.

Ketika mendapat kabar seperti itu—terutama pernikahan—mereka pasti lagi bahagia banget akhirnya bisa hidup berdampingan dengan orang pilihan mereka. Aku masih ingat betul rasanya, terutama ketika sedang proses mempersiapkan ini itu buat pernikahan. Gak jarang kadang aku iseng bilang ke suamiku, “Resepsi lagi, yuk,” yang jawabannya diikuti dengan gelengan kepala sambil bercanda, “Gak ah, pusing.”

Tak terasa kini aku pun hampir menjalani satu tahun pernikahan. Perasaan sudah banyak yang aku lewati, tapi tetap banyak yang masih kupelajari. Aku bahkan tadinya ‘orang itu’ yang setiap melihat orang pacaran maupun menikah berpikir, “Kok bisa ya mereka gak takut dengan komitmen?” Acap kali aku memikirkannya juga dengan rasa takut.

Belum lagi sekarang banyak konten di media sosial yang menceritakan tentang kegagalan sejoli untuk menjalin kasih, hingga konten fear mongering kalau pernikahan itu momok menyeramkan. Seperti, “Bayangkan, seumur hidup kamu bakalan bareng orang yang ke depannya bisa saja berubah sementara kamu gak bisa semerta-merta minta memutuskan hubungan karena kamu sudah mengikrarkan janji suci.” Akhirnya, gak sedikit pula yang berakhir gak percaya kalau ikatan cinta antara dua orang itu hal yang mungkin.

Aku bukan pakar hubungan. Aku menulis ini pun cuma berdasarkan pengalaman, perasaan, dan intuisiku saja. Ambil yang baik dan buang yang buruknya, ya.

Seserahan pernikahan

Kurasa, setidaknya seseorang pasti pernah berpikir kalau komitmen adalah sesuatu yang sulit dijalani. Pemikiran seperti ini bisa juga didasari juga dengan pengalaman masa lalu. Kalau seseorang pernah mengalami kesulitan di hubungan sebelumnya, bakal ada kecenderungan salah satu pihak (atau bahkan keduanya) membawa trauma tersebut di hubungan barunya. Tidak percaya dengan kegiatan yang pasangannya lakukan, misalnya. Biasanya trauma kayak gini muncul karena pasangannya di masa lalu pernah bertindak tidak setia/jujur, atau bisa juga disebabkan salah satu pihak merasa insecure mengenai dirinya sendiri. Hal ini kemudian berujung salah satu pihak cenderung memproyeksikan rasa tidak nyaman ini di hubungan barunya. 

Awalnya, kukira memproyeksikan ketakutan ke pasangan adalah sesuatu yang wajar hingga aku belajar bahwa sebenarnya itu bukanlah urusan pasangan kita. Sebelum memulai hubungan baru, akan sangat baik kalau kita ‘menyelesaikan apa-apa yang tidak beres di hubungan sebelumnya’. Aku sendiri pernah menjadi orang yang sangat memproyeksikan ketakutanku ke pasangan hingga aku menjadi pasangan yang posesif gila-gilaan dan membuat hubunganku saat itu jadi sangat gak sehat. 

Menjalin hubungan hampir empat tahun yang diakhiri dengan putus menjadi momen titik balik buatku. Aku mempelajari kesalahanku di hubungan sebelumnya yang kemudian kujanjikan pada diriku sendiri untuk gak melakukan itu di hubunganku berikutnya. Bahkan, ada saat aku benar-benar gak mau menjalin hubungan karena aku takut bakalan putus lagi dan aku cuma ingin menjalani hubungan yang berakhir serius. Waktu itu kupikir, “Sudah bukan umurku pacaran cuma sekadar buat main-main.” Saking skeptisnya tentang hubungan dan komitmen, kutanya temanku yang saat itu punya pacar dan jawabannya, “Ya, kita coba dulu aja. Kalau gak dicoba, gak akan tahu kan, ke depannya bakal gimana?”

Singkat cerita, kemudian aku merasakan the crazy butterflies in my stomach lagi ketika pertama kali aku bertemu orang yang jadi suamiku sekarang. Aku mulai memahami lagi ungkapan ‘if we never try, we’ll never know’. Sesuai janjiku, aku mencoba memperbaiki diriku di hubungan baru ini supaya hubungan kami tetap sehat. Gak sampai setahun kami kenal satu sama lain, kami berencana untuk beralih ke jenjang yang lebih serius. It sure does take effort to build a healthy relationship, menurutku.

Punya pasangan yang pikirannya lebih dewasa dan berusaha untuk mengkomunikasikan apapun adalah sesuatu yang baru buatku. Dengan adanya komunikasi seperti ini, kukira aku sudah mengetahui pasanganku luar dalam. Nyatanya, setelah menikah selalu saja ada perbedaan ketika sudah seatap.

Perbedaan seperti ini ternyata gak cuma dialami oleh aku yang fase perkenalan menuju pernikahannya tergolong cepat. Beberapa temanku yang sudah pacaran lebih dari tiga tahun berujung menikah pun merasakan hal yang sama. Hal seperti ini yang biasanya menyulut pertengkaran kecil antara suami dan istri, dan biasanya jadi konten fear mongering di media sosial seperti yang tadi aku sebutkan.

Padahal wajar menurutku kalau ada perbedaan seperti itu. Toh, tak peduli berapa lama sejoli bersama, akan jadi pengalaman baru buat mereka untuk hidup di bawah atap yang sama. Kedua pihak berasal dari latar belakang yang berbeda, wajar kalau dari kebiasaan bangun tidur hingga akan tidur ada perbedaan.

Waktu masih jauh dari umurku buat menikah, aku pernah dikasih tahu tetangga sebelah rumah kalau sudah menikah jangan ‘sweat the little things’. Maksudnya apa, ya? Hingga aku mencari tahu sendiri kalau sudah menikah, sesuatu yang terkesan trifle atau sepele bisa jadi bahan kekesalan yang terus bisa bikin jadi pertikaian kecil. 

Terlepas dari perbedaan apa pun, hubungan bakal awet ketika ada komunikasi dan kompromi. Saat sudah mengkomunikasikan apa yang dimau, kedua pihak juga kemudian harus memahami apa yang diinginkan pasangan dan bagaimana kita bisa mencari jalan tengah yang oke untuk keduanya. Kurasa kurang efektif kalau cuma berkomunikasi tanpa mengindahkan solusi yang baik buat kedua belah pihak. Jangan takut juga kalau ternyata masih ada kesalahpahaman hingga sifat dari pasangan kita yang belum kita pahami; marriage is a lifetime learning.

Selain komunikasi, kita harus bisa melihat dan menilai juga kualitas pasangan ketika fase PDKT maupun pacaran. Krusial sifatnya. Apakah dia suka mengeluarkan kata-kata kasar ketika marah? Suka main tangan?  Menghindari tanggung jawab? Manipulatif? Kalau ada tanda-tanda bendera merah, tinggalkan. Run, don’t walk. Seumur hidup terlalu lama buat menghabiskan waktu dengan orang yang salah. 

(´。• ◡ •。`) ♡

Tentang Komitmen, Hubungan, dan Pernikahan

April 10, 2023

Beberapa waktu yang lalu aku menghadiri pernikahan temanku. Apa mau dikata, umur segini memang sudah saatnya aku mendapati berita bahagia seperti lamaran, pernikahan, lahiran, hingga melihat unggahan bangganya teman-temanku yang sudah menjadi ayah atau ibu mengenai perkembangan anaknya.

Ketika mendapat kabar seperti itu—terutama pernikahan—mereka pasti lagi bahagia banget akhirnya bisa hidup berdampingan dengan orang pilihan mereka. Aku masih ingat betul rasanya, terutama ketika sedang proses mempersiapkan ini itu buat pernikahan. Gak jarang kadang aku iseng bilang ke suamiku, “Resepsi lagi, yuk,” yang jawabannya diikuti dengan gelengan kepala sambil bercanda, “Gak ah, pusing.”

Tak terasa kini aku pun hampir menjalani satu tahun pernikahan. Perasaan sudah banyak yang aku lewati, tapi tetap banyak yang masih kupelajari. Aku bahkan tadinya ‘orang itu’ yang setiap melihat orang pacaran maupun menikah berpikir, “Kok bisa ya mereka gak takut dengan komitmen?” Acap kali aku memikirkannya juga dengan rasa takut.

Belum lagi sekarang banyak konten di media sosial yang menceritakan tentang kegagalan sejoli untuk menjalin kasih, hingga konten fear mongering kalau pernikahan itu momok menyeramkan. Seperti, “Bayangkan, seumur hidup kamu bakalan bareng orang yang ke depannya bisa saja berubah sementara kamu gak bisa semerta-merta minta memutuskan hubungan karena kamu sudah mengikrarkan janji suci.” Akhirnya, gak sedikit pula yang berakhir gak percaya kalau ikatan cinta antara dua orang itu hal yang mungkin.

Aku bukan pakar hubungan. Aku menulis ini pun cuma berdasarkan pengalaman, perasaan, dan intuisiku saja. Ambil yang baik dan buang yang buruknya, ya.

Seserahan pernikahan

Kurasa, setidaknya seseorang pasti pernah berpikir kalau komitmen adalah sesuatu yang sulit dijalani. Pemikiran seperti ini bisa juga didasari juga dengan pengalaman masa lalu. Kalau seseorang pernah mengalami kesulitan di hubungan sebelumnya, bakal ada kecenderungan salah satu pihak (atau bahkan keduanya) membawa trauma tersebut di hubungan barunya. Tidak percaya dengan kegiatan yang pasangannya lakukan, misalnya. Biasanya trauma kayak gini muncul karena pasangannya di masa lalu pernah bertindak tidak setia/jujur, atau bisa juga disebabkan salah satu pihak merasa insecure mengenai dirinya sendiri. Hal ini kemudian berujung salah satu pihak cenderung memproyeksikan rasa tidak nyaman ini di hubungan barunya. 

Awalnya, kukira memproyeksikan ketakutan ke pasangan adalah sesuatu yang wajar hingga aku belajar bahwa sebenarnya itu bukanlah urusan pasangan kita. Sebelum memulai hubungan baru, akan sangat baik kalau kita ‘menyelesaikan apa-apa yang tidak beres di hubungan sebelumnya’. Aku sendiri pernah menjadi orang yang sangat memproyeksikan ketakutanku ke pasangan hingga aku menjadi pasangan yang posesif gila-gilaan dan membuat hubunganku saat itu jadi sangat gak sehat. 

Menjalin hubungan hampir empat tahun yang diakhiri dengan putus menjadi momen titik balik buatku. Aku mempelajari kesalahanku di hubungan sebelumnya yang kemudian kujanjikan pada diriku sendiri untuk gak melakukan itu di hubunganku berikutnya. Bahkan, ada saat aku benar-benar gak mau menjalin hubungan karena aku takut bakalan putus lagi dan aku cuma ingin menjalani hubungan yang berakhir serius. Waktu itu kupikir, “Sudah bukan umurku pacaran cuma sekadar buat main-main.” Saking skeptisnya tentang hubungan dan komitmen, kutanya temanku yang saat itu punya pacar dan jawabannya, “Ya, kita coba dulu aja. Kalau gak dicoba, gak akan tahu kan, ke depannya bakal gimana?”

Singkat cerita, kemudian aku merasakan the crazy butterflies in my stomach lagi ketika pertama kali aku bertemu orang yang jadi suamiku sekarang. Aku mulai memahami lagi ungkapan ‘if we never try, we’ll never know’. Sesuai janjiku, aku mencoba memperbaiki diriku di hubungan baru ini supaya hubungan kami tetap sehat. Gak sampai setahun kami kenal satu sama lain, kami berencana untuk beralih ke jenjang yang lebih serius. It sure does take effort to build a healthy relationship, menurutku.

Punya pasangan yang pikirannya lebih dewasa dan berusaha untuk mengkomunikasikan apapun adalah sesuatu yang baru buatku. Dengan adanya komunikasi seperti ini, kukira aku sudah mengetahui pasanganku luar dalam. Nyatanya, setelah menikah selalu saja ada perbedaan ketika sudah seatap.

Perbedaan seperti ini ternyata gak cuma dialami oleh aku yang fase perkenalan menuju pernikahannya tergolong cepat. Beberapa temanku yang sudah pacaran lebih dari tiga tahun berujung menikah pun merasakan hal yang sama. Hal seperti ini yang biasanya menyulut pertengkaran kecil antara suami dan istri, dan biasanya jadi konten fear mongering di media sosial seperti yang tadi aku sebutkan.

Padahal wajar menurutku kalau ada perbedaan seperti itu. Toh, tak peduli berapa lama sejoli bersama, akan jadi pengalaman baru buat mereka untuk hidup di bawah atap yang sama. Kedua pihak berasal dari latar belakang yang berbeda, wajar kalau dari kebiasaan bangun tidur hingga akan tidur ada perbedaan.

Waktu masih jauh dari umurku buat menikah, aku pernah dikasih tahu tetangga sebelah rumah kalau sudah menikah jangan ‘sweat the little things’. Maksudnya apa, ya? Hingga aku mencari tahu sendiri kalau sudah menikah, sesuatu yang terkesan trifle atau sepele bisa jadi bahan kekesalan yang terus bisa bikin jadi pertikaian kecil. 

Terlepas dari perbedaan apa pun, hubungan bakal awet ketika ada komunikasi dan kompromi. Saat sudah mengkomunikasikan apa yang dimau, kedua pihak juga kemudian harus memahami apa yang diinginkan pasangan dan bagaimana kita bisa mencari jalan tengah yang oke untuk keduanya. Kurasa kurang efektif kalau cuma berkomunikasi tanpa mengindahkan solusi yang baik buat kedua belah pihak. Jangan takut juga kalau ternyata masih ada kesalahpahaman hingga sifat dari pasangan kita yang belum kita pahami; marriage is a lifetime learning.

Selain komunikasi, kita harus bisa melihat dan menilai juga kualitas pasangan ketika fase PDKT maupun pacaran. Krusial sifatnya. Apakah dia suka mengeluarkan kata-kata kasar ketika marah? Suka main tangan?  Menghindari tanggung jawab? Manipulatif? Kalau ada tanda-tanda bendera merah, tinggalkan. Run, don’t walk. Seumur hidup terlalu lama buat menghabiskan waktu dengan orang yang salah. 

(´。• ◡ •。`) ♡

Mindfulness, maksudnya.

Mengutip Oxford Languages, kewawasan diartikan sebagai keadaan mental di mana seseorang fokus pada apa yang terjadi di masa kini—the present—sambil menerima dan mengakui perasaan, pikiran, sensasi yang terjadi pada tubuh, dan ini digunakan sebagai teknik terapeutik. Kurasa masih satu makna dengan frasa ‘to live in the moment’.

Dengan dunia yang berubah sejak dua tahun terakhir, terlintas pertanyaan di benak, “Kapan terakhir kali aku benar-benar wawas dengan apa yang sedang kulakukan?”

Sejak 2019—terdengar sudah lama sekali, ya. Apalagi mengingat bahwa ini tahun sebelum pandemi ada—konsep tempat di mana aku kerja adalah remote working alias aku bisa bekerja dari mana pun aku mau. Jujur saja, aku memang gak membayangkan diriku jadi orang yang bisa terus-terusan melakukan hal repetitif saban hari; bangun pagi, sarapan, berangkat ke dan kerja di kantor, pulang, tidur, dan melakukan yang sama keesokan harinya. Aku juga orang yang biasa-biasa saja dalam melakukan hal, medioker, dan gak ambisius (soalnya ada temanku yang bilang aku ambisius, padahal gak juga. Aku cuma melakukan pekerjaanku dengan standar yang aku tentukan sendiri). 

Mendapatkan pekerjaan pertama dengan konsep remote working jadi mimpi yang terealisasikan bagiku saat itu. Aku cuma cukup standby di depan laptop dari jam sembilan pagi hingga lima sore, seperti kebanyakan kantor biasa. Orang bilang pekerjaanku enak soalnya cuma cukup diam di rumah tapi bisa tetap berpendapatan. Padahal kenyataannya, ternyata, gak semudah itu.

Aku mesti dihadapkan dengan atasan yang selain micromanaging punya banyak bendera merah. Aku masih ingat setiap jam sembilan yang kupikirkan hanya, “Bakal ada marah-marah apalagi hari ini?” Belum lagi perasaan berkecamuk dan gak keruan setiap aku mendengar notifikasi WhatsApp yang harus segera dibalas. Kalau nggak, dia bakal ceramahi aku dan yang lain secara virtual dan bertanya, “Kalian lagi ngapain, sih?! Balas pesan gak butuh lima menit, lo.” Hanya saja dalam bahasa Inggris dengan aksen Singapura. 

Ah, masih banyak unek-unek pada mantan—syukurlah sudah mantan—atasanku itu yang kalau aku jabarkan di sini pasti bakal panjang banget. Percayalah, ketika aku tahu ada orang seperti dia aku jadi percaya wujud orang yang penuh dengan bendera merah itu ada. Positifnya? Kami (re: aku dan teman-teman satu tim) jadi cukup tahan banting walau kewarasan kami pernah dikorbankan.

Saat bekerja, jangankan jalan-jalan ke sana ke mari. Ibuku suka bilang, "Menoleh pun gak bisa," karena aku kelewat fokus pada apa yang sedang aku kerjakan. Waktu itu, pekerjaan yang diembankan pada kami gak pernah jelas kapan tenggat waktunya. Terkadang dia mau hari itu juga selesai atau kalimat, “It doesn’t take one hour to work on that, guys,” terlontar. Belum lagi dia yang suka tiba-tiba, “Let’s get on a call.” Tujuannya? Only God knows. Mau ngasih tugas baru atau mau rewel kenapa tugas yang baru diberikannya gak kunjung selesai. On God, gimana mau selesai kalau tiap menit ditanya, “Sudah selesai belum?”

Kebiasaan yang aku bilang barusan bikin aku gak terlalu bisa menikmati hal yang kulakukan di luar pekerjaan. Sesederhana minum air, misalnya. Boro-boro mau menikmati betapa enaknya air putih yang kutenggak, ingat untuk berdiri kemudian mengambil minum juga aku sudah bersyukur. Jangankan bisa menikmati tiap kunyahan makan siang, ingat makan siang juga sudah untung. Hal begini kadang masih terbawa hingga aku menulis draf kiriman ini.

Makan donat enak dengan wawas di Kyomi Space

Selain backstory barusan, kurasa cepatnya informasi yang beredar via ponsel pintar dan adanya kecenderungan jadi FOMO juga jadi salah satu faktor kenapa kewawasanku terkikis. “Kapan terakhir kali aku benar-benar menikmati apa yang sedang kulakukan?” Ironisnya, pertanyaan itu muncul saat aku lagi makan sembari nonton TikTok karena aku merasa makanan yang saat itu kutelan cuma ‘sekadar lewat di tenggorokan’. Makanan itu gak  seenak saat aku benar-benar fokus bahwa aku sedang melakukan aktivitas makan. Segera kututup ponselku dan live in the present; tanpa gangguan, cuma aku dan makananku, dan kujamin rasa makanan itu seketika jadi berbeda dan gak sekadar lewat di tenggorokan.

Dengan hidupku yang berubah hampir 180 derajat (setelah menjadi istri orang), aku masih suka kaget dengan hal yang kujalani hingga hari ini. Singkat cerita, aku resign dari kantor sebelumnya dan kini aku kerja di tempat baru walau yang berubah cuma tugasnya karena aku masih remote working. Ketika di kantor sebelumnya aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali aku minum, di kantor kali ini bahkan aku bisa melakukan hal yang aku mau sambil bekerja. Gak ada juga huru-hara atau drama marah-marahnya atasan yang kerap ada tiap pagi dan bikin sibuk seharian.

Bisa live in the moment, seize the day, or whatever you may want to call it, jujur, terasa aneh (dalam konotasi positif) bagiku. Punya hobi baru yang bisa kukerjakan di sela-sela menunggu balasan talent, masak, atau menyiapkan suami berangkat ke kantor tanpa tiba-tiba di-mention via WhatsApp yang bikin perasaan gak karuan dan ngerjain segala sesuatunya jadi rusuh. Walau sekarang aku berada di mode zen, gak jarang juga aku masih mengerjakan segala sesuatu sambil sesekali mengecek ponsel karena masih ada remahan ketakutan dari yang pernah kualami sebelumnya.

Sekarang, aku pelan-pelan membuang semua sisa ketakutan ini karena aku gak perlu tiba-tiba diajak call yang isinya marah-marah gak perlu nan menguras energi itu. Gak perlu juga mengerjakan sesuatunya terburu-buru karena benar kata Haemin Sunim, there are things you can see only when you slow down, dan itu setidaknya jadi wawas. Jadi, kusarankan di dunia yang serba cepat ini, wawas agar tetap waras.

(´。• •。`) ♡

Kewawasan

October 05, 2022

,

Mindfulness, maksudnya.

Mengutip Oxford Languages, kewawasan diartikan sebagai keadaan mental di mana seseorang fokus pada apa yang terjadi di masa kini—the present—sambil menerima dan mengakui perasaan, pikiran, sensasi yang terjadi pada tubuh, dan ini digunakan sebagai teknik terapeutik. Kurasa masih satu makna dengan frasa ‘to live in the moment’.

Dengan dunia yang berubah sejak dua tahun terakhir, terlintas pertanyaan di benak, “Kapan terakhir kali aku benar-benar wawas dengan apa yang sedang kulakukan?”

Sejak 2019—terdengar sudah lama sekali, ya. Apalagi mengingat bahwa ini tahun sebelum pandemi ada—konsep tempat di mana aku kerja adalah remote working alias aku bisa bekerja dari mana pun aku mau. Jujur saja, aku memang gak membayangkan diriku jadi orang yang bisa terus-terusan melakukan hal repetitif saban hari; bangun pagi, sarapan, berangkat ke dan kerja di kantor, pulang, tidur, dan melakukan yang sama keesokan harinya. Aku juga orang yang biasa-biasa saja dalam melakukan hal, medioker, dan gak ambisius (soalnya ada temanku yang bilang aku ambisius, padahal gak juga. Aku cuma melakukan pekerjaanku dengan standar yang aku tentukan sendiri). 

Mendapatkan pekerjaan pertama dengan konsep remote working jadi mimpi yang terealisasikan bagiku saat itu. Aku cuma cukup standby di depan laptop dari jam sembilan pagi hingga lima sore, seperti kebanyakan kantor biasa. Orang bilang pekerjaanku enak soalnya cuma cukup diam di rumah tapi bisa tetap berpendapatan. Padahal kenyataannya, ternyata, gak semudah itu.

Aku mesti dihadapkan dengan atasan yang selain micromanaging punya banyak bendera merah. Aku masih ingat setiap jam sembilan yang kupikirkan hanya, “Bakal ada marah-marah apalagi hari ini?” Belum lagi perasaan berkecamuk dan gak keruan setiap aku mendengar notifikasi WhatsApp yang harus segera dibalas. Kalau nggak, dia bakal ceramahi aku dan yang lain secara virtual dan bertanya, “Kalian lagi ngapain, sih?! Balas pesan gak butuh lima menit, lo.” Hanya saja dalam bahasa Inggris dengan aksen Singapura. 

Ah, masih banyak unek-unek pada mantan—syukurlah sudah mantan—atasanku itu yang kalau aku jabarkan di sini pasti bakal panjang banget. Percayalah, ketika aku tahu ada orang seperti dia aku jadi percaya wujud orang yang penuh dengan bendera merah itu ada. Positifnya? Kami (re: aku dan teman-teman satu tim) jadi cukup tahan banting walau kewarasan kami pernah dikorbankan.

Saat bekerja, jangankan jalan-jalan ke sana ke mari. Ibuku suka bilang, "Menoleh pun gak bisa," karena aku kelewat fokus pada apa yang sedang aku kerjakan. Waktu itu, pekerjaan yang diembankan pada kami gak pernah jelas kapan tenggat waktunya. Terkadang dia mau hari itu juga selesai atau kalimat, “It doesn’t take one hour to work on that, guys,” terlontar. Belum lagi dia yang suka tiba-tiba, “Let’s get on a call.” Tujuannya? Only God knows. Mau ngasih tugas baru atau mau rewel kenapa tugas yang baru diberikannya gak kunjung selesai. On God, gimana mau selesai kalau tiap menit ditanya, “Sudah selesai belum?”

Kebiasaan yang aku bilang barusan bikin aku gak terlalu bisa menikmati hal yang kulakukan di luar pekerjaan. Sesederhana minum air, misalnya. Boro-boro mau menikmati betapa enaknya air putih yang kutenggak, ingat untuk berdiri kemudian mengambil minum juga aku sudah bersyukur. Jangankan bisa menikmati tiap kunyahan makan siang, ingat makan siang juga sudah untung. Hal begini kadang masih terbawa hingga aku menulis draf kiriman ini.

Makan donat enak dengan wawas di Kyomi Space

Selain backstory barusan, kurasa cepatnya informasi yang beredar via ponsel pintar dan adanya kecenderungan jadi FOMO juga jadi salah satu faktor kenapa kewawasanku terkikis. “Kapan terakhir kali aku benar-benar menikmati apa yang sedang kulakukan?” Ironisnya, pertanyaan itu muncul saat aku lagi makan sembari nonton TikTok karena aku merasa makanan yang saat itu kutelan cuma ‘sekadar lewat di tenggorokan’. Makanan itu gak  seenak saat aku benar-benar fokus bahwa aku sedang melakukan aktivitas makan. Segera kututup ponselku dan live in the present; tanpa gangguan, cuma aku dan makananku, dan kujamin rasa makanan itu seketika jadi berbeda dan gak sekadar lewat di tenggorokan.

Dengan hidupku yang berubah hampir 180 derajat (setelah menjadi istri orang), aku masih suka kaget dengan hal yang kujalani hingga hari ini. Singkat cerita, aku resign dari kantor sebelumnya dan kini aku kerja di tempat baru walau yang berubah cuma tugasnya karena aku masih remote working. Ketika di kantor sebelumnya aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali aku minum, di kantor kali ini bahkan aku bisa melakukan hal yang aku mau sambil bekerja. Gak ada juga huru-hara atau drama marah-marahnya atasan yang kerap ada tiap pagi dan bikin sibuk seharian.

Bisa live in the moment, seize the day, or whatever you may want to call it, jujur, terasa aneh (dalam konotasi positif) bagiku. Punya hobi baru yang bisa kukerjakan di sela-sela menunggu balasan talent, masak, atau menyiapkan suami berangkat ke kantor tanpa tiba-tiba di-mention via WhatsApp yang bikin perasaan gak karuan dan ngerjain segala sesuatunya jadi rusuh. Walau sekarang aku berada di mode zen, gak jarang juga aku masih mengerjakan segala sesuatu sambil sesekali mengecek ponsel karena masih ada remahan ketakutan dari yang pernah kualami sebelumnya.

Sekarang, aku pelan-pelan membuang semua sisa ketakutan ini karena aku gak perlu tiba-tiba diajak call yang isinya marah-marah gak perlu nan menguras energi itu. Gak perlu juga mengerjakan sesuatunya terburu-buru karena benar kata Haemin Sunim, there are things you can see only when you slow down, dan itu setidaknya jadi wawas. Jadi, kusarankan di dunia yang serba cepat ini, wawas agar tetap waras.

(´。• •。`) ♡

Menjadi pengguna media sosial yang cukup aktif bikin aku melek terhadap isu yang lagi gemar diangkat warganet. Walau gak semua isu aku ikuti—karena beberapa terlalu pelik dan menimbulkan adu kicau. Lebih baik jauh-jauh dari hal seperti itu, cuma bikin capek hati. Membatasi diri atau gak main medsos mungkin lebih bagus, justru—pasti ada satu dua isu yang diiringi budaya pengenyahan.

Hematku, budaya pengenyahan ini adalah salah satu cara modern untuk mengucilkan seseorang (biasanya figur publik) karena perilaku atau pendapatnya yang dianggap fatal dan kontroversial bagi khalayak. Gak jarang, budaya ini bisa dengan cepat melenyapkan karier seseorang.

Lantas, apakah budaya pengenyahan ini sesuatu yang positif atau negatif?

Aku seringnya menganggap kalau sesuatu itu relatif, tidak eksak, abu-abu, tidak bisa digeneralisir. Jadi ya, kurasa memang diperlukan ketika pelaku melakukan sesuatu yang tidak lagi bisa ditoleransi. Gerakan #MeToo yang lagi-lagi mencuat karena pelecehan seksual yang dilakukan seorang artis asal Tiongkok, misalnya (bukannya aku tak ingin menyebut nama-nama pelaku di sini. Aku cuma mau main aman). Dampak yang mengekor pun dahsyat, dia dihantam habis-habisan; ia dienyahkan dari platform medsos Tiongkok, situs aliran musik, dan kurasa nihil usahanya kalau dia mau muncul lagi ke dunia hiburan.

Walau begitu, terkadang ada mob mentality terhadap budaya ini, alias mereka dengan mental ikut-ikutan tanpa mengetahui apa duduk perkara utamanya. Namun begitu, di sisi lain mob mentality juga mungkin bisa saja turut menyukseskan pengenyahan yang seharusnya jadi ganjaran pelaku. Tetap saja, akan lebih baik kalau melakukan aksi pengenyahan ini dengan didasari dan atas kemauan sendiri, bukan karena FOMO. “Harus punya pendirian,” demikian ibuku bilang kala ia kesal mendengar kata “terserah” sebagai jawaban. Kurasa bisa diterapkan juga dalam situasi seperti ini.



Yang mau kubahas di kiriman kali ini adalah bagaimana senewennya aku karena tampaknya di tempat kita tinggal ini budaya pengenyahan tidak tereksekusi dengan terlalu baik (tentu saja kalau dilakukan jangan sampai salah sasaran. Makanya barusan aku bilang harus punya pendirian dan harus bisa lihat dari berbagai kacamata. Harus bisa jadi orang bijak dalam mengambil tindakan).

Sebutlah si penyanyi dangdut yang kemarin baru bebas dari penjara. Media malah mengglorifikasi kebebasannya setelah kasus pedofilia yang dilakukannya, entah apa maksudnya. Atau, seseorang yang kemarin tak dipenjara karena disebut-sebut ‘sopan dan berhak bahagia’, kini mulai terlihat aktif kembali di medsosnya karena mereka yang masih dalam lingkar pertemanan yang sama terlihat memberikan dukungan terhadap orang tersebut.

Pertanyaanku: bagaimana bisa kita ingin tak melihat para pelaku kesalahan ini tak muncul lagi di layar jika yang ‘membuat pelaku kembali’ masih mereka-mereka juga yang punya kekuatan atas eksposur yang hebat?

Akan baik jadinya kalau kita punya stance atau cara kita mengambil sikap terhadap orang-orang ini. Ketika mereka berbuat sesuatu, kita mesti lihat siapa korbannya dan efek apa yang ditimbulkan atas perilaku mereka; seperti yang terjadi pada aktor asal Korea Selatan kemarin yang membuat gaduh atas isu gaslighting dan aborsi terhadap pacarnya (meski pada akhirnya si aktorlah korbannya). Walau kecewa, orang-orang berbondong memberikan dukungan pada si pacar aktor karena saat itu khalayak cuma tahu kalau si pacar adalah korban. Demi menjunjung integritas, beberapa merek yang bekerja sama dengan si aktor pun (untuk sementara waktu) menghapus kiriman dengan wajah si aktor yang terpampang nyata. Tindakan seperti inilah yang menjadi hulu dari pengenyahan.

Sementara pada kasus yang ada di negara kita (terkesan hiperbolis, tapi begitu adanya), jangankan mengambil tindakan seperti yang kusebutkan di atas. Gak jarang, ada beberapa merek yang malah mengambil kesempatan ini untuk bekerja sama dengan si pelaku karena sedang ramai diperbincangkan demi meningkatkan eksposur. Sebuah strategi yang gak berpendirian, gak kritis, gak memikirkan value-nya, dan bikin aku gak habis pikir.

Untungnya, beberapa orang sudah paham betul dan bisa mengambil sikap apa yang harus dilakukan jika ada kasus seperti ini. Beberapa sudah memahami pentingnya punya sudut pandang dan mengambil sisi yang mereka rasa benar. Terkadang ada juga yang didasari alasan terlalu penat melihat kelakuan si pelaku sehingga mereka telanjur ilfeel dan dengan begitu saja tak lagi mengindahkannya. Aku pun mencoba mengambil jarak pada si pelaku dan siapa-siapa saja yang malah memberikan dukungan pada si empunya salah. Sudah saatnya kukira kita bisa mengambil sikap dan memberikan ganjaran (setidaknya dalam spektrum sosial, tapi tetap bedakan dengan perundungan, ya. Mengenyahkan tidak sama dengan merundung) yang tepat.

Penafian: Perlu diingat kiriman ini cuma berdasar opiniku saja, ya. Sangat boleh kalau teman-teman yang baca punya pendapat berbeda. Gambar juga cuma pemanis, tapi kurasa cukup cocok dengan tema yang kuangkat kali ini. Si pelaku dienyahkan, sendiri, jauh dari keramaian, dan harus memasuki pintu keberangkatan dari jagat yang semula ia tinggali.


(´。• •。`) ♡

Budaya Pengenyahan

January 16, 2022

Menjadi pengguna media sosial yang cukup aktif bikin aku melek terhadap isu yang lagi gemar diangkat warganet. Walau gak semua isu aku ikuti—karena beberapa terlalu pelik dan menimbulkan adu kicau. Lebih baik jauh-jauh dari hal seperti itu, cuma bikin capek hati. Membatasi diri atau gak main medsos mungkin lebih bagus, justru—pasti ada satu dua isu yang diiringi budaya pengenyahan.

Hematku, budaya pengenyahan ini adalah salah satu cara modern untuk mengucilkan seseorang (biasanya figur publik) karena perilaku atau pendapatnya yang dianggap fatal dan kontroversial bagi khalayak. Gak jarang, budaya ini bisa dengan cepat melenyapkan karier seseorang.

Lantas, apakah budaya pengenyahan ini sesuatu yang positif atau negatif?

Aku seringnya menganggap kalau sesuatu itu relatif, tidak eksak, abu-abu, tidak bisa digeneralisir. Jadi ya, kurasa memang diperlukan ketika pelaku melakukan sesuatu yang tidak lagi bisa ditoleransi. Gerakan #MeToo yang lagi-lagi mencuat karena pelecehan seksual yang dilakukan seorang artis asal Tiongkok, misalnya (bukannya aku tak ingin menyebut nama-nama pelaku di sini. Aku cuma mau main aman). Dampak yang mengekor pun dahsyat, dia dihantam habis-habisan; ia dienyahkan dari platform medsos Tiongkok, situs aliran musik, dan kurasa nihil usahanya kalau dia mau muncul lagi ke dunia hiburan.

Walau begitu, terkadang ada mob mentality terhadap budaya ini, alias mereka dengan mental ikut-ikutan tanpa mengetahui apa duduk perkara utamanya. Namun begitu, di sisi lain mob mentality juga mungkin bisa saja turut menyukseskan pengenyahan yang seharusnya jadi ganjaran pelaku. Tetap saja, akan lebih baik kalau melakukan aksi pengenyahan ini dengan didasari dan atas kemauan sendiri, bukan karena FOMO. “Harus punya pendirian,” demikian ibuku bilang kala ia kesal mendengar kata “terserah” sebagai jawaban. Kurasa bisa diterapkan juga dalam situasi seperti ini.



Yang mau kubahas di kiriman kali ini adalah bagaimana senewennya aku karena tampaknya di tempat kita tinggal ini budaya pengenyahan tidak tereksekusi dengan terlalu baik (tentu saja kalau dilakukan jangan sampai salah sasaran. Makanya barusan aku bilang harus punya pendirian dan harus bisa lihat dari berbagai kacamata. Harus bisa jadi orang bijak dalam mengambil tindakan).

Sebutlah si penyanyi dangdut yang kemarin baru bebas dari penjara. Media malah mengglorifikasi kebebasannya setelah kasus pedofilia yang dilakukannya, entah apa maksudnya. Atau, seseorang yang kemarin tak dipenjara karena disebut-sebut ‘sopan dan berhak bahagia’, kini mulai terlihat aktif kembali di medsosnya karena mereka yang masih dalam lingkar pertemanan yang sama terlihat memberikan dukungan terhadap orang tersebut.

Pertanyaanku: bagaimana bisa kita ingin tak melihat para pelaku kesalahan ini tak muncul lagi di layar jika yang ‘membuat pelaku kembali’ masih mereka-mereka juga yang punya kekuatan atas eksposur yang hebat?

Akan baik jadinya kalau kita punya stance atau cara kita mengambil sikap terhadap orang-orang ini. Ketika mereka berbuat sesuatu, kita mesti lihat siapa korbannya dan efek apa yang ditimbulkan atas perilaku mereka; seperti yang terjadi pada aktor asal Korea Selatan kemarin yang membuat gaduh atas isu gaslighting dan aborsi terhadap pacarnya (meski pada akhirnya si aktorlah korbannya). Walau kecewa, orang-orang berbondong memberikan dukungan pada si pacar aktor karena saat itu khalayak cuma tahu kalau si pacar adalah korban. Demi menjunjung integritas, beberapa merek yang bekerja sama dengan si aktor pun (untuk sementara waktu) menghapus kiriman dengan wajah si aktor yang terpampang nyata. Tindakan seperti inilah yang menjadi hulu dari pengenyahan.

Sementara pada kasus yang ada di negara kita (terkesan hiperbolis, tapi begitu adanya), jangankan mengambil tindakan seperti yang kusebutkan di atas. Gak jarang, ada beberapa merek yang malah mengambil kesempatan ini untuk bekerja sama dengan si pelaku karena sedang ramai diperbincangkan demi meningkatkan eksposur. Sebuah strategi yang gak berpendirian, gak kritis, gak memikirkan value-nya, dan bikin aku gak habis pikir.

Untungnya, beberapa orang sudah paham betul dan bisa mengambil sikap apa yang harus dilakukan jika ada kasus seperti ini. Beberapa sudah memahami pentingnya punya sudut pandang dan mengambil sisi yang mereka rasa benar. Terkadang ada juga yang didasari alasan terlalu penat melihat kelakuan si pelaku sehingga mereka telanjur ilfeel dan dengan begitu saja tak lagi mengindahkannya. Aku pun mencoba mengambil jarak pada si pelaku dan siapa-siapa saja yang malah memberikan dukungan pada si empunya salah. Sudah saatnya kukira kita bisa mengambil sikap dan memberikan ganjaran (setidaknya dalam spektrum sosial, tapi tetap bedakan dengan perundungan, ya. Mengenyahkan tidak sama dengan merundung) yang tepat.

Penafian: Perlu diingat kiriman ini cuma berdasar opiniku saja, ya. Sangat boleh kalau teman-teman yang baca punya pendapat berbeda. Gambar juga cuma pemanis, tapi kurasa cukup cocok dengan tema yang kuangkat kali ini. Si pelaku dienyahkan, sendiri, jauh dari keramaian, dan harus memasuki pintu keberangkatan dari jagat yang semula ia tinggali.


(´。• •。`) ♡

Bergelut di bidang pemasaran gak membuatku alpa dari mana aku memulai. Tak pernah terpikirkan juga kalau aku bakal menyandang gelar sarjana sastra di tahun 2018. Dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, pula.

Aku memang sudah terpapar bahasa Inggris dari aku kelas satu sekolah dasar. Awalnya, aku bukan anak yang unggul dalam bahasa asing ini. Apalagi dulu sebenarnya aku agak terpaksa mengikuti les bahasa Inggris. Namun, seiring berjalannya waktu, struktur gramatika, pengucapan, dan kaidah lain bahasa ini jadi masuk akal buatku tanpa alasan.

Banyaknya tugas yang mengharuskan aku membaca dan menulis dalam bahasa Inggris menjadikanku terbiasa. Entah sudah berapa karya sastra (yang modern; aku masih kesulitan membaca Shakespeare), karya ilmiah, maupun buku pelajaran yang kulahap di masa-masa kuliah. Mau gak mau, suka gak suka.

Kepiawaian menulis dalam bahasa Inggris pun tentunya jadi salah satu keterampilan yang harus kukuasai demi menggapai kelulusan. Faktanya, memang ada beberapa Program Studi Sastra Inggris lainnya yang tidak mengharuskan mahasiswanya menulis skripsi penuh dalam bahasa Inggris. Di kampusku, wajib hukumnya. Belum lagi jurusanku yang berkiblat spesifik pada APA (American Psychological Association) untuk penulisan sitasi yang harus kupelajari juga aturannya.

Belajar bahasa baru dengan memulainya dari bahasa Inggris sekaligus memahami fonetik-fonologi, sintaksis, sosiolinguistik, dan lainnya, jadi lebih mudah buatku. Let alone I was taught Arabic and Germany during middle and high school, respectively. Aku pun sedikit-sedikit belajar bahasa Prancis dan Korea secara autodidak. Semua konsep yang pernah kupelajari dalam bahasa-bahasa tersebut, lagi-lagi, jadi masuk akal begitu saja.



Setelah lulus, pekerjaan pertamaku yang masih kuselami hingga kini mengharuskanku menggunakan bahasa Inggris dalam bentuk ujaran dan tulisan. Empat tahun yang bisa kubilang sangat berfaedah hingga membawaku ke titik yang kujejaki sekarang. Mudah? Tentu saja (jemawa, ya). Enteng buatku untuk memahami apa yang atasan maupun klienku inginkan untuk kampanye pemasaran yang dibutuhkan.

Acap kali aku membuat blog—yang seringnya kuhapus lagi—dengan konten bahasa Inggris, di mana menyalurkan apa yang kurasakan mudah kuuraikan dengan terperinci. Pun dengan kebanyakan takarir yang kuunggah di Instagram-ku. Tak jarang beberapa temanku berkomentar, "Nggak ngerti. Butuh Google Translate."

Mirisnya, kesulitan justru baru kurasakan ketika aku memulai menulis blog ini. Seperti yang bisa dilihat, bahasa yang kugunakan secara umum di sini adalah bahasa Indonesia. Malah terasa agak sukar bagiku untuk mencurahkan apa yang ingin kubagikan. Padahal bahasa ibuku, ya bahasa Indonesia.

Aku tumbuh di tengah keluarga yang menjadikan bahasa Indonesia bahasa pertama. Ayah dan ibuku berasal dari daerah yang berbeda. Mungkin inilah dasar tak sengaja yang menjadikanku memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu.

Minatku untuk membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia terlihat sejak aku kecil. Ayah selalu membelikanku majalah Bobo—yang notabene majalah anak paling terkenal kala itu—setiap hari Kamis. Belum lagi tugas bahasa Indonesia zaman SD yang seringnya menugaskan untuk menulis pengalaman waktu liburan (sering banget gak, sih?). Kata orang tuaku, wali kelas saat aku kelas satu memuji esai yang kutulis karena terkesan genuine (padahal ini cuma karena aku membuka paragraf dengan 'Kan begini...'). Aku juga sering dinobatkan menjadi salah satu murid dengan peminjam buku terbanyak di perpustakaan.

Hari digantikan minggu, minggu digeser bulan, bulan disambut tahun. Tiba-tiba aku sudah besar (padahal kalau bisa, aku gak mau jadi besar (⊃◜⌓◝⊂)). Masa-masa SMP dan SMA-ku juga dihabiskan dengan membaca buku novel—yang kadang beli sendiri atau pinjam punya teman. Namun, begitu medsos mulai menjamuri dunia remajaku, konten berbahasa Inggris muncul di mana-mana (dulu aku sering pakai Tumblr, Facebook, dan Twitter) dan entah bagaimana pelbagai konten ini terasa dekat dengan peristiwa yang kebanyakan muda-mudi alami saat itu. Tentu saja, demi menjadi relevan, aku jadi salah satu orang yang menulis konten dengan bahasa Inggris.




Siapa sangka ternyata kebiasaan itu (aku gak bilang ini kebiasaan buruk, ya) bikin aku kurang terbiasa menulis dalam bahasa Indonesia, kecuali untuk tugas-tugas tertentu. Ketika aku memulai blog ini, alih-alih blog-walking, aku lebih getol bolak-balik mengakses KBBI versi web untuk mencari padanan kata yang pas untuk ditulis. Dalam hati sering tebersit pertanyaan, "Kok nulis pakai bahasa sendiri aja gak yakin, ya."

Aku mengikuti Ivan Lanin di Twitter dan Instagram sejak lama karena memang tertarik akan aturan bahasa Indonesia yang benar. Menulis blog ini bikin aku lebih sering "main" ke lini masa beliau karena keresahanku atas bahasa yang kugunakan sehari-hari. Lalu, Tuhan punya cara-Nya sendiri untuk menjawab pertanyaanku barusan.

Tiba-tiba, aku terpicu untuk membuka situs Narabahasa dan mendengarkan siniarnya yang tersedia di Spotify. Episode pertamanya dibuka dengan Ivan Lanin membacakan pidato kebahasaan yang berjudul "Pesan Tak Sampai". Semua yang beliau sampaikan relevan dengan apa yang aku rasakan. Aku semakin mengulik apa-apa saja yang belum aku ketahui di episode-episode selanjutnya. Omong-omong, aku nulis ini gak disponsori lo, ya.

Semua yang dikatakan beliau benar. Kenapa aku lebih tahu pasangan 'neither' adalah 'nor' ketimbang pasangan 'bukan' adalah 'melainkan'? Kenapa aku baru sadar kalau bahasa Indonesia juga menggunakan Oxford comma, seperti bahasa Inggris? Kenapa aku baru tahu arti 'suasana' berbeda dengan 'nuansa'? Lo, beda toh, pemakaian 'sudah' dan 'telah'? Ini jadi refleksi buatku kalau aku ternyata punya banyak PR untuk belajar bahasa sendiri.

Tentu saja, mempelajari bahasa selama empat tahun kuliah bikin aku triggered terhadap kesalahan sekecil apa pun yang muncul dalam bentuk tulisan. Balik lagi seperti pertanyaan di atas, kenapa aku lebih paham kesalahan yang ada di bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia? Kalau mengutip sedikit kalimat dari "Pesan Tak Sampai", aku seperti "lebih memperhatikan pasangan orang lain daripada pasangan sendiri."

Dulu aku sempat berpikiran kalau menulis dalam bahasa Indonesia terkesan kaku. Nyatanya gak juga, walaupun mungkin memang persona yang aku timbulkan saat nulis pakai bahasa Indonesia jadi beda dibanding kalau aku nulis pakai bahasa Inggris.

Banyak juga kosakata dalam bahasa Indonesia yang baru aku ketahui—lewah, kama, Wrisaba, repih, dan lain-lain. Aku selalu meyakini kalau mempelajari bahasa adalah pelajaran seumur hidup terlepas apa pun bahasanya; banyak banget yang belum kita ketahui. Menulis blog ini pun aku gak yakin penulisannya sudah benar, mana masih diselang-seling pakai bahasa Inggris, lagi. Tapi gak apa-apa, seenggaknya aku mencoba.

(´。• ◡ •。`) ♡

Bahasa Ibuku

July 15, 2021

Bergelut di bidang pemasaran gak membuatku alpa dari mana aku memulai. Tak pernah terpikirkan juga kalau aku bakal menyandang gelar sarjana sastra di tahun 2018. Dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, pula.

Aku memang sudah terpapar bahasa Inggris dari aku kelas satu sekolah dasar. Awalnya, aku bukan anak yang unggul dalam bahasa asing ini. Apalagi dulu sebenarnya aku agak terpaksa mengikuti les bahasa Inggris. Namun, seiring berjalannya waktu, struktur gramatika, pengucapan, dan kaidah lain bahasa ini jadi masuk akal buatku tanpa alasan.

Banyaknya tugas yang mengharuskan aku membaca dan menulis dalam bahasa Inggris menjadikanku terbiasa. Entah sudah berapa karya sastra (yang modern; aku masih kesulitan membaca Shakespeare), karya ilmiah, maupun buku pelajaran yang kulahap di masa-masa kuliah. Mau gak mau, suka gak suka.

Kepiawaian menulis dalam bahasa Inggris pun tentunya jadi salah satu keterampilan yang harus kukuasai demi menggapai kelulusan. Faktanya, memang ada beberapa Program Studi Sastra Inggris lainnya yang tidak mengharuskan mahasiswanya menulis skripsi penuh dalam bahasa Inggris. Di kampusku, wajib hukumnya. Belum lagi jurusanku yang berkiblat spesifik pada APA (American Psychological Association) untuk penulisan sitasi yang harus kupelajari juga aturannya.

Belajar bahasa baru dengan memulainya dari bahasa Inggris sekaligus memahami fonetik-fonologi, sintaksis, sosiolinguistik, dan lainnya, jadi lebih mudah buatku. Let alone I was taught Arabic and Germany during middle and high school, respectively. Aku pun sedikit-sedikit belajar bahasa Prancis dan Korea secara autodidak. Semua konsep yang pernah kupelajari dalam bahasa-bahasa tersebut, lagi-lagi, jadi masuk akal begitu saja.



Setelah lulus, pekerjaan pertamaku yang masih kuselami hingga kini mengharuskanku menggunakan bahasa Inggris dalam bentuk ujaran dan tulisan. Empat tahun yang bisa kubilang sangat berfaedah hingga membawaku ke titik yang kujejaki sekarang. Mudah? Tentu saja (jemawa, ya). Enteng buatku untuk memahami apa yang atasan maupun klienku inginkan untuk kampanye pemasaran yang dibutuhkan.

Acap kali aku membuat blog—yang seringnya kuhapus lagi—dengan konten bahasa Inggris, di mana menyalurkan apa yang kurasakan mudah kuuraikan dengan terperinci. Pun dengan kebanyakan takarir yang kuunggah di Instagram-ku. Tak jarang beberapa temanku berkomentar, "Nggak ngerti. Butuh Google Translate."

Mirisnya, kesulitan justru baru kurasakan ketika aku memulai menulis blog ini. Seperti yang bisa dilihat, bahasa yang kugunakan secara umum di sini adalah bahasa Indonesia. Malah terasa agak sukar bagiku untuk mencurahkan apa yang ingin kubagikan. Padahal bahasa ibuku, ya bahasa Indonesia.

Aku tumbuh di tengah keluarga yang menjadikan bahasa Indonesia bahasa pertama. Ayah dan ibuku berasal dari daerah yang berbeda. Mungkin inilah dasar tak sengaja yang menjadikanku memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu.

Minatku untuk membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia terlihat sejak aku kecil. Ayah selalu membelikanku majalah Bobo—yang notabene majalah anak paling terkenal kala itu—setiap hari Kamis. Belum lagi tugas bahasa Indonesia zaman SD yang seringnya menugaskan untuk menulis pengalaman waktu liburan (sering banget gak, sih?). Kata orang tuaku, wali kelas saat aku kelas satu memuji esai yang kutulis karena terkesan genuine (padahal ini cuma karena aku membuka paragraf dengan 'Kan begini...'). Aku juga sering dinobatkan menjadi salah satu murid dengan peminjam buku terbanyak di perpustakaan.

Hari digantikan minggu, minggu digeser bulan, bulan disambut tahun. Tiba-tiba aku sudah besar (padahal kalau bisa, aku gak mau jadi besar (⊃◜⌓◝⊂)). Masa-masa SMP dan SMA-ku juga dihabiskan dengan membaca buku novel—yang kadang beli sendiri atau pinjam punya teman. Namun, begitu medsos mulai menjamuri dunia remajaku, konten berbahasa Inggris muncul di mana-mana (dulu aku sering pakai Tumblr, Facebook, dan Twitter) dan entah bagaimana pelbagai konten ini terasa dekat dengan peristiwa yang kebanyakan muda-mudi alami saat itu. Tentu saja, demi menjadi relevan, aku jadi salah satu orang yang menulis konten dengan bahasa Inggris.




Siapa sangka ternyata kebiasaan itu (aku gak bilang ini kebiasaan buruk, ya) bikin aku kurang terbiasa menulis dalam bahasa Indonesia, kecuali untuk tugas-tugas tertentu. Ketika aku memulai blog ini, alih-alih blog-walking, aku lebih getol bolak-balik mengakses KBBI versi web untuk mencari padanan kata yang pas untuk ditulis. Dalam hati sering tebersit pertanyaan, "Kok nulis pakai bahasa sendiri aja gak yakin, ya."

Aku mengikuti Ivan Lanin di Twitter dan Instagram sejak lama karena memang tertarik akan aturan bahasa Indonesia yang benar. Menulis blog ini bikin aku lebih sering "main" ke lini masa beliau karena keresahanku atas bahasa yang kugunakan sehari-hari. Lalu, Tuhan punya cara-Nya sendiri untuk menjawab pertanyaanku barusan.

Tiba-tiba, aku terpicu untuk membuka situs Narabahasa dan mendengarkan siniarnya yang tersedia di Spotify. Episode pertamanya dibuka dengan Ivan Lanin membacakan pidato kebahasaan yang berjudul "Pesan Tak Sampai". Semua yang beliau sampaikan relevan dengan apa yang aku rasakan. Aku semakin mengulik apa-apa saja yang belum aku ketahui di episode-episode selanjutnya. Omong-omong, aku nulis ini gak disponsori lo, ya.

Semua yang dikatakan beliau benar. Kenapa aku lebih tahu pasangan 'neither' adalah 'nor' ketimbang pasangan 'bukan' adalah 'melainkan'? Kenapa aku baru sadar kalau bahasa Indonesia juga menggunakan Oxford comma, seperti bahasa Inggris? Kenapa aku baru tahu arti 'suasana' berbeda dengan 'nuansa'? Lo, beda toh, pemakaian 'sudah' dan 'telah'? Ini jadi refleksi buatku kalau aku ternyata punya banyak PR untuk belajar bahasa sendiri.

Tentu saja, mempelajari bahasa selama empat tahun kuliah bikin aku triggered terhadap kesalahan sekecil apa pun yang muncul dalam bentuk tulisan. Balik lagi seperti pertanyaan di atas, kenapa aku lebih paham kesalahan yang ada di bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia? Kalau mengutip sedikit kalimat dari "Pesan Tak Sampai", aku seperti "lebih memperhatikan pasangan orang lain daripada pasangan sendiri."

Dulu aku sempat berpikiran kalau menulis dalam bahasa Indonesia terkesan kaku. Nyatanya gak juga, walaupun mungkin memang persona yang aku timbulkan saat nulis pakai bahasa Indonesia jadi beda dibanding kalau aku nulis pakai bahasa Inggris.

Banyak juga kosakata dalam bahasa Indonesia yang baru aku ketahui—lewah, kama, Wrisaba, repih, dan lain-lain. Aku selalu meyakini kalau mempelajari bahasa adalah pelajaran seumur hidup terlepas apa pun bahasanya; banyak banget yang belum kita ketahui. Menulis blog ini pun aku gak yakin penulisannya sudah benar, mana masih diselang-seling pakai bahasa Inggris, lagi. Tapi gak apa-apa, seenggaknya aku mencoba.

(´。• ◡ •。`) ♡

One Chocolate Eater