Tentang Komitmen, Hubungan, dan Pernikahan

Beberapa waktu yang lalu aku menghadiri pernikahan temanku. Apa mau dikata, umur segini memang sudah saatnya aku mendapati berita bahagia seperti lamaran, pernikahan, lahiran, hingga melihat unggahan bangganya teman-temanku yang sudah menjadi ayah atau ibu mengenai perkembangan anaknya.

Ketika mendapat kabar seperti itu—terutama pernikahan—mereka pasti lagi bahagia banget akhirnya bisa hidup berdampingan dengan orang pilihan mereka. Aku masih ingat betul rasanya, terutama ketika sedang proses mempersiapkan ini itu buat pernikahan. Gak jarang kadang aku iseng bilang ke suamiku, “Resepsi lagi, yuk,” yang jawabannya diikuti dengan gelengan kepala sambil bercanda, “Gak ah, pusing.”

Tak terasa kini aku pun hampir menjalani satu tahun pernikahan. Perasaan sudah banyak yang aku lewati, tapi tetap banyak yang masih kupelajari. Aku bahkan tadinya ‘orang itu’ yang setiap melihat orang pacaran maupun menikah berpikir, “Kok bisa ya mereka gak takut dengan komitmen?” Acap kali aku memikirkannya juga dengan rasa takut.

Belum lagi sekarang banyak konten di media sosial yang menceritakan tentang kegagalan sejoli untuk menjalin kasih, hingga konten fear mongering kalau pernikahan itu momok menyeramkan. Seperti, “Bayangkan, seumur hidup kamu bakalan bareng orang yang ke depannya bisa saja berubah sementara kamu gak bisa semerta-merta minta memutuskan hubungan karena kamu sudah mengikrarkan janji suci.” Akhirnya, gak sedikit pula yang berakhir gak percaya kalau ikatan cinta antara dua orang itu hal yang mungkin.

Aku bukan pakar hubungan. Aku menulis ini pun cuma berdasarkan pengalaman, perasaan, dan intuisiku saja. Ambil yang baik dan buang yang buruknya, ya.

Seserahan pernikahan

Kurasa, setidaknya seseorang pasti pernah berpikir kalau komitmen adalah sesuatu yang sulit dijalani. Pemikiran seperti ini bisa juga didasari juga dengan pengalaman masa lalu. Kalau seseorang pernah mengalami kesulitan di hubungan sebelumnya, bakal ada kecenderungan salah satu pihak (atau bahkan keduanya) membawa trauma tersebut di hubungan barunya. Tidak percaya dengan kegiatan yang pasangannya lakukan, misalnya. Biasanya trauma kayak gini muncul karena pasangannya di masa lalu pernah bertindak tidak setia/jujur, atau bisa juga disebabkan salah satu pihak merasa insecure mengenai dirinya sendiri. Hal ini kemudian berujung salah satu pihak cenderung memproyeksikan rasa tidak nyaman ini di hubungan barunya. 

Awalnya, kukira memproyeksikan ketakutan ke pasangan adalah sesuatu yang wajar hingga aku belajar bahwa sebenarnya itu bukanlah urusan pasangan kita. Sebelum memulai hubungan baru, akan sangat baik kalau kita ‘menyelesaikan apa-apa yang tidak beres di hubungan sebelumnya’. Aku sendiri pernah menjadi orang yang sangat memproyeksikan ketakutanku ke pasangan hingga aku menjadi pasangan yang posesif gila-gilaan dan membuat hubunganku saat itu jadi sangat gak sehat. 

Menjalin hubungan hampir empat tahun yang diakhiri dengan putus menjadi momen titik balik buatku. Aku mempelajari kesalahanku di hubungan sebelumnya yang kemudian kujanjikan pada diriku sendiri untuk gak melakukan itu di hubunganku berikutnya. Bahkan, ada saat aku benar-benar gak mau menjalin hubungan karena aku takut bakalan putus lagi dan aku cuma ingin menjalani hubungan yang berakhir serius. Waktu itu kupikir, “Sudah bukan umurku pacaran cuma sekadar buat main-main.” Saking skeptisnya tentang hubungan dan komitmen, kutanya temanku yang saat itu punya pacar dan jawabannya, “Ya, kita coba dulu aja. Kalau gak dicoba, gak akan tahu kan, ke depannya bakal gimana?”

Singkat cerita, kemudian aku merasakan the crazy butterflies in my stomach lagi ketika pertama kali aku bertemu orang yang jadi suamiku sekarang. Aku mulai memahami lagi ungkapan ‘if we never try, we’ll never know’. Sesuai janjiku, aku mencoba memperbaiki diriku di hubungan baru ini supaya hubungan kami tetap sehat. Gak sampai setahun kami kenal satu sama lain, kami berencana untuk beralih ke jenjang yang lebih serius. It sure does take effort to build a healthy relationship, menurutku.

Punya pasangan yang pikirannya lebih dewasa dan berusaha untuk mengkomunikasikan apapun adalah sesuatu yang baru buatku. Dengan adanya komunikasi seperti ini, kukira aku sudah mengetahui pasanganku luar dalam. Nyatanya, setelah menikah selalu saja ada perbedaan ketika sudah seatap.

Perbedaan seperti ini ternyata gak cuma dialami oleh aku yang fase perkenalan menuju pernikahannya tergolong cepat. Beberapa temanku yang sudah pacaran lebih dari tiga tahun berujung menikah pun merasakan hal yang sama. Hal seperti ini yang biasanya menyulut pertengkaran kecil antara suami dan istri, dan biasanya jadi konten fear mongering di media sosial seperti yang tadi aku sebutkan.

Padahal wajar menurutku kalau ada perbedaan seperti itu. Toh, tak peduli berapa lama sejoli bersama, akan jadi pengalaman baru buat mereka untuk hidup di bawah atap yang sama. Kedua pihak berasal dari latar belakang yang berbeda, wajar kalau dari kebiasaan bangun tidur hingga akan tidur ada perbedaan.

Waktu masih jauh dari umurku buat menikah, aku pernah dikasih tahu tetangga sebelah rumah kalau sudah menikah jangan ‘sweat the little things’. Maksudnya apa, ya? Hingga aku mencari tahu sendiri kalau sudah menikah, sesuatu yang terkesan trifle atau sepele bisa jadi bahan kekesalan yang terus bisa bikin jadi pertikaian kecil. 

Terlepas dari perbedaan apa pun, hubungan bakal awet ketika ada komunikasi dan kompromi. Saat sudah mengkomunikasikan apa yang dimau, kedua pihak juga kemudian harus memahami apa yang diinginkan pasangan dan bagaimana kita bisa mencari jalan tengah yang oke untuk keduanya. Kurasa kurang efektif kalau cuma berkomunikasi tanpa mengindahkan solusi yang baik buat kedua belah pihak. Jangan takut juga kalau ternyata masih ada kesalahpahaman hingga sifat dari pasangan kita yang belum kita pahami; marriage is a lifetime learning.

Selain komunikasi, kita harus bisa melihat dan menilai juga kualitas pasangan ketika fase PDKT maupun pacaran. Krusial sifatnya. Apakah dia suka mengeluarkan kata-kata kasar ketika marah? Suka main tangan?  Menghindari tanggung jawab? Manipulatif? Kalau ada tanda-tanda bendera merah, tinggalkan. Run, don’t walk. Seumur hidup terlalu lama buat menghabiskan waktu dengan orang yang salah. 

(´。• ◡ •。`) ♡

2 comments

  1. Perbedaan emang pasti ada dalam setiap hubungan. Karena kita berasal dari 2 orang yang beda yang diasuh dari keluarga berbeda. Akupun baru merasakan berumah tangga, masih adaptasi terhadap perbedaan itu. Yang penting adalah komunikasi. Sebagai istri, gapapa menyeruakan sesuatu/ pendapat/ keinginan. Diskusi jadi hal yang baik. Walaupun pada akhirnya, nanti suami lah sebagai pembuat keputusannya. Tapi semoga pernikahan kita selalu diberkahi oleh Yang Maha Kuasa. Terimakasih sudah sharing kak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Kak. Terima kasih sudah membaca!

      Betul bgt kak, perbedaan pasti ada. Pasangan mau cocok segimana pun adalah dua individu yg berbeda, yg penting bs saling menghargai pendapat masing2 dan ttp bs cari jalan keluar yg baik buat keduanya kalau lg ada masalah.

      Aamiin kak. Semoga pernikahan kita juga selalu sakinah, mawaddah, warahmahđź©·

      Delete

One Chocolate Eater