Beberapa waktu yang lalu aku menghadiri pernikahan temanku. Apa mau dikata, umur segini memang sudah saatnya aku mendapati berita bahagia seperti lamaran, pernikahan, lahiran, hingga melihat unggahan bangganya teman-temanku yang sudah menjadi ayah atau ibu mengenai perkembangan anaknya.

Ketika mendapat kabar seperti itu—terutama pernikahan—mereka pasti lagi bahagia banget akhirnya bisa hidup berdampingan dengan orang pilihan mereka. Aku masih ingat betul rasanya, terutama ketika sedang proses mempersiapkan ini itu buat pernikahan. Gak jarang kadang aku iseng bilang ke suamiku, “Resepsi lagi, yuk,” yang jawabannya diikuti dengan gelengan kepala sambil bercanda, “Gak ah, pusing.”

Tak terasa kini aku pun hampir menjalani satu tahun pernikahan. Perasaan sudah banyak yang aku lewati, tapi tetap banyak yang masih kupelajari. Aku bahkan tadinya ‘orang itu’ yang setiap melihat orang pacaran maupun menikah berpikir, “Kok bisa ya mereka gak takut dengan komitmen?” Acap kali aku memikirkannya juga dengan rasa takut.

Belum lagi sekarang banyak konten di media sosial yang menceritakan tentang kegagalan sejoli untuk menjalin kasih, hingga konten fear mongering kalau pernikahan itu momok menyeramkan. Seperti, “Bayangkan, seumur hidup kamu bakalan bareng orang yang ke depannya bisa saja berubah sementara kamu gak bisa semerta-merta minta memutuskan hubungan karena kamu sudah mengikrarkan janji suci.” Akhirnya, gak sedikit pula yang berakhir gak percaya kalau ikatan cinta antara dua orang itu hal yang mungkin.

Aku bukan pakar hubungan. Aku menulis ini pun cuma berdasarkan pengalaman, perasaan, dan intuisiku saja. Ambil yang baik dan buang yang buruknya, ya.

Seserahan pernikahan

Kurasa, setidaknya seseorang pasti pernah berpikir kalau komitmen adalah sesuatu yang sulit dijalani. Pemikiran seperti ini bisa juga didasari juga dengan pengalaman masa lalu. Kalau seseorang pernah mengalami kesulitan di hubungan sebelumnya, bakal ada kecenderungan salah satu pihak (atau bahkan keduanya) membawa trauma tersebut di hubungan barunya. Tidak percaya dengan kegiatan yang pasangannya lakukan, misalnya. Biasanya trauma kayak gini muncul karena pasangannya di masa lalu pernah bertindak tidak setia/jujur, atau bisa juga disebabkan salah satu pihak merasa insecure mengenai dirinya sendiri. Hal ini kemudian berujung salah satu pihak cenderung memproyeksikan rasa tidak nyaman ini di hubungan barunya. 

Awalnya, kukira memproyeksikan ketakutan ke pasangan adalah sesuatu yang wajar hingga aku belajar bahwa sebenarnya itu bukanlah urusan pasangan kita. Sebelum memulai hubungan baru, akan sangat baik kalau kita ‘menyelesaikan apa-apa yang tidak beres di hubungan sebelumnya’. Aku sendiri pernah menjadi orang yang sangat memproyeksikan ketakutanku ke pasangan hingga aku menjadi pasangan yang posesif gila-gilaan dan membuat hubunganku saat itu jadi sangat gak sehat. 

Menjalin hubungan hampir empat tahun yang diakhiri dengan putus menjadi momen titik balik buatku. Aku mempelajari kesalahanku di hubungan sebelumnya yang kemudian kujanjikan pada diriku sendiri untuk gak melakukan itu di hubunganku berikutnya. Bahkan, ada saat aku benar-benar gak mau menjalin hubungan karena aku takut bakalan putus lagi dan aku cuma ingin menjalani hubungan yang berakhir serius. Waktu itu kupikir, “Sudah bukan umurku pacaran cuma sekadar buat main-main.” Saking skeptisnya tentang hubungan dan komitmen, kutanya temanku yang saat itu punya pacar dan jawabannya, “Ya, kita coba dulu aja. Kalau gak dicoba, gak akan tahu kan, ke depannya bakal gimana?”

Singkat cerita, kemudian aku merasakan the crazy butterflies in my stomach lagi ketika pertama kali aku bertemu orang yang jadi suamiku sekarang. Aku mulai memahami lagi ungkapan ‘if we never try, we’ll never know’. Sesuai janjiku, aku mencoba memperbaiki diriku di hubungan baru ini supaya hubungan kami tetap sehat. Gak sampai setahun kami kenal satu sama lain, kami berencana untuk beralih ke jenjang yang lebih serius. It sure does take effort to build a healthy relationship, menurutku.

Punya pasangan yang pikirannya lebih dewasa dan berusaha untuk mengkomunikasikan apapun adalah sesuatu yang baru buatku. Dengan adanya komunikasi seperti ini, kukira aku sudah mengetahui pasanganku luar dalam. Nyatanya, setelah menikah selalu saja ada perbedaan ketika sudah seatap.

Perbedaan seperti ini ternyata gak cuma dialami oleh aku yang fase perkenalan menuju pernikahannya tergolong cepat. Beberapa temanku yang sudah pacaran lebih dari tiga tahun berujung menikah pun merasakan hal yang sama. Hal seperti ini yang biasanya menyulut pertengkaran kecil antara suami dan istri, dan biasanya jadi konten fear mongering di media sosial seperti yang tadi aku sebutkan.

Padahal wajar menurutku kalau ada perbedaan seperti itu. Toh, tak peduli berapa lama sejoli bersama, akan jadi pengalaman baru buat mereka untuk hidup di bawah atap yang sama. Kedua pihak berasal dari latar belakang yang berbeda, wajar kalau dari kebiasaan bangun tidur hingga akan tidur ada perbedaan.

Waktu masih jauh dari umurku buat menikah, aku pernah dikasih tahu tetangga sebelah rumah kalau sudah menikah jangan ‘sweat the little things’. Maksudnya apa, ya? Hingga aku mencari tahu sendiri kalau sudah menikah, sesuatu yang terkesan trifle atau sepele bisa jadi bahan kekesalan yang terus bisa bikin jadi pertikaian kecil. 

Terlepas dari perbedaan apa pun, hubungan bakal awet ketika ada komunikasi dan kompromi. Saat sudah mengkomunikasikan apa yang dimau, kedua pihak juga kemudian harus memahami apa yang diinginkan pasangan dan bagaimana kita bisa mencari jalan tengah yang oke untuk keduanya. Kurasa kurang efektif kalau cuma berkomunikasi tanpa mengindahkan solusi yang baik buat kedua belah pihak. Jangan takut juga kalau ternyata masih ada kesalahpahaman hingga sifat dari pasangan kita yang belum kita pahami; marriage is a lifetime learning.

Selain komunikasi, kita harus bisa melihat dan menilai juga kualitas pasangan ketika fase PDKT maupun pacaran. Krusial sifatnya. Apakah dia suka mengeluarkan kata-kata kasar ketika marah? Suka main tangan?  Menghindari tanggung jawab? Manipulatif? Kalau ada tanda-tanda bendera merah, tinggalkan. Run, don’t walk. Seumur hidup terlalu lama buat menghabiskan waktu dengan orang yang salah. 

(´。• ◡ •。`) ♡

Tentang Komitmen, Hubungan, dan Pernikahan

April 10, 2023

Beberapa waktu yang lalu aku menghadiri pernikahan temanku. Apa mau dikata, umur segini memang sudah saatnya aku mendapati berita bahagia seperti lamaran, pernikahan, lahiran, hingga melihat unggahan bangganya teman-temanku yang sudah menjadi ayah atau ibu mengenai perkembangan anaknya.

Ketika mendapat kabar seperti itu—terutama pernikahan—mereka pasti lagi bahagia banget akhirnya bisa hidup berdampingan dengan orang pilihan mereka. Aku masih ingat betul rasanya, terutama ketika sedang proses mempersiapkan ini itu buat pernikahan. Gak jarang kadang aku iseng bilang ke suamiku, “Resepsi lagi, yuk,” yang jawabannya diikuti dengan gelengan kepala sambil bercanda, “Gak ah, pusing.”

Tak terasa kini aku pun hampir menjalani satu tahun pernikahan. Perasaan sudah banyak yang aku lewati, tapi tetap banyak yang masih kupelajari. Aku bahkan tadinya ‘orang itu’ yang setiap melihat orang pacaran maupun menikah berpikir, “Kok bisa ya mereka gak takut dengan komitmen?” Acap kali aku memikirkannya juga dengan rasa takut.

Belum lagi sekarang banyak konten di media sosial yang menceritakan tentang kegagalan sejoli untuk menjalin kasih, hingga konten fear mongering kalau pernikahan itu momok menyeramkan. Seperti, “Bayangkan, seumur hidup kamu bakalan bareng orang yang ke depannya bisa saja berubah sementara kamu gak bisa semerta-merta minta memutuskan hubungan karena kamu sudah mengikrarkan janji suci.” Akhirnya, gak sedikit pula yang berakhir gak percaya kalau ikatan cinta antara dua orang itu hal yang mungkin.

Aku bukan pakar hubungan. Aku menulis ini pun cuma berdasarkan pengalaman, perasaan, dan intuisiku saja. Ambil yang baik dan buang yang buruknya, ya.

Seserahan pernikahan

Kurasa, setidaknya seseorang pasti pernah berpikir kalau komitmen adalah sesuatu yang sulit dijalani. Pemikiran seperti ini bisa juga didasari juga dengan pengalaman masa lalu. Kalau seseorang pernah mengalami kesulitan di hubungan sebelumnya, bakal ada kecenderungan salah satu pihak (atau bahkan keduanya) membawa trauma tersebut di hubungan barunya. Tidak percaya dengan kegiatan yang pasangannya lakukan, misalnya. Biasanya trauma kayak gini muncul karena pasangannya di masa lalu pernah bertindak tidak setia/jujur, atau bisa juga disebabkan salah satu pihak merasa insecure mengenai dirinya sendiri. Hal ini kemudian berujung salah satu pihak cenderung memproyeksikan rasa tidak nyaman ini di hubungan barunya. 

Awalnya, kukira memproyeksikan ketakutan ke pasangan adalah sesuatu yang wajar hingga aku belajar bahwa sebenarnya itu bukanlah urusan pasangan kita. Sebelum memulai hubungan baru, akan sangat baik kalau kita ‘menyelesaikan apa-apa yang tidak beres di hubungan sebelumnya’. Aku sendiri pernah menjadi orang yang sangat memproyeksikan ketakutanku ke pasangan hingga aku menjadi pasangan yang posesif gila-gilaan dan membuat hubunganku saat itu jadi sangat gak sehat. 

Menjalin hubungan hampir empat tahun yang diakhiri dengan putus menjadi momen titik balik buatku. Aku mempelajari kesalahanku di hubungan sebelumnya yang kemudian kujanjikan pada diriku sendiri untuk gak melakukan itu di hubunganku berikutnya. Bahkan, ada saat aku benar-benar gak mau menjalin hubungan karena aku takut bakalan putus lagi dan aku cuma ingin menjalani hubungan yang berakhir serius. Waktu itu kupikir, “Sudah bukan umurku pacaran cuma sekadar buat main-main.” Saking skeptisnya tentang hubungan dan komitmen, kutanya temanku yang saat itu punya pacar dan jawabannya, “Ya, kita coba dulu aja. Kalau gak dicoba, gak akan tahu kan, ke depannya bakal gimana?”

Singkat cerita, kemudian aku merasakan the crazy butterflies in my stomach lagi ketika pertama kali aku bertemu orang yang jadi suamiku sekarang. Aku mulai memahami lagi ungkapan ‘if we never try, we’ll never know’. Sesuai janjiku, aku mencoba memperbaiki diriku di hubungan baru ini supaya hubungan kami tetap sehat. Gak sampai setahun kami kenal satu sama lain, kami berencana untuk beralih ke jenjang yang lebih serius. It sure does take effort to build a healthy relationship, menurutku.

Punya pasangan yang pikirannya lebih dewasa dan berusaha untuk mengkomunikasikan apapun adalah sesuatu yang baru buatku. Dengan adanya komunikasi seperti ini, kukira aku sudah mengetahui pasanganku luar dalam. Nyatanya, setelah menikah selalu saja ada perbedaan ketika sudah seatap.

Perbedaan seperti ini ternyata gak cuma dialami oleh aku yang fase perkenalan menuju pernikahannya tergolong cepat. Beberapa temanku yang sudah pacaran lebih dari tiga tahun berujung menikah pun merasakan hal yang sama. Hal seperti ini yang biasanya menyulut pertengkaran kecil antara suami dan istri, dan biasanya jadi konten fear mongering di media sosial seperti yang tadi aku sebutkan.

Padahal wajar menurutku kalau ada perbedaan seperti itu. Toh, tak peduli berapa lama sejoli bersama, akan jadi pengalaman baru buat mereka untuk hidup di bawah atap yang sama. Kedua pihak berasal dari latar belakang yang berbeda, wajar kalau dari kebiasaan bangun tidur hingga akan tidur ada perbedaan.

Waktu masih jauh dari umurku buat menikah, aku pernah dikasih tahu tetangga sebelah rumah kalau sudah menikah jangan ‘sweat the little things’. Maksudnya apa, ya? Hingga aku mencari tahu sendiri kalau sudah menikah, sesuatu yang terkesan trifle atau sepele bisa jadi bahan kekesalan yang terus bisa bikin jadi pertikaian kecil. 

Terlepas dari perbedaan apa pun, hubungan bakal awet ketika ada komunikasi dan kompromi. Saat sudah mengkomunikasikan apa yang dimau, kedua pihak juga kemudian harus memahami apa yang diinginkan pasangan dan bagaimana kita bisa mencari jalan tengah yang oke untuk keduanya. Kurasa kurang efektif kalau cuma berkomunikasi tanpa mengindahkan solusi yang baik buat kedua belah pihak. Jangan takut juga kalau ternyata masih ada kesalahpahaman hingga sifat dari pasangan kita yang belum kita pahami; marriage is a lifetime learning.

Selain komunikasi, kita harus bisa melihat dan menilai juga kualitas pasangan ketika fase PDKT maupun pacaran. Krusial sifatnya. Apakah dia suka mengeluarkan kata-kata kasar ketika marah? Suka main tangan?  Menghindari tanggung jawab? Manipulatif? Kalau ada tanda-tanda bendera merah, tinggalkan. Run, don’t walk. Seumur hidup terlalu lama buat menghabiskan waktu dengan orang yang salah. 

(´。• ◡ •。`) ♡

Senja di Tall Wolu

My lecturer once said,

Be careful if you used to break a writer's heart once:

you're going to linger in their piece forever.

Linger

Senja di Tall Wolu

My lecturer once said,

Be careful if you used to break a writer's heart once:

you're going to linger in their piece forever.

Mindfulness, maksudnya.

Mengutip Oxford Languages, kewawasan diartikan sebagai keadaan mental di mana seseorang fokus pada apa yang terjadi di masa kini—the present—sambil menerima dan mengakui perasaan, pikiran, sensasi yang terjadi pada tubuh, dan ini digunakan sebagai teknik terapeutik. Kurasa masih satu makna dengan frasa ‘to live in the moment’.

Dengan dunia yang berubah sejak dua tahun terakhir, terlintas pertanyaan di benak, “Kapan terakhir kali aku benar-benar wawas dengan apa yang sedang kulakukan?”

Sejak 2019—terdengar sudah lama sekali, ya. Apalagi mengingat bahwa ini tahun sebelum pandemi ada—konsep tempat di mana aku kerja adalah remote working alias aku bisa bekerja dari mana pun aku mau. Jujur saja, aku memang gak membayangkan diriku jadi orang yang bisa terus-terusan melakukan hal repetitif saban hari; bangun pagi, sarapan, berangkat ke dan kerja di kantor, pulang, tidur, dan melakukan yang sama keesokan harinya. Aku juga orang yang biasa-biasa saja dalam melakukan hal, medioker, dan gak ambisius (soalnya ada temanku yang bilang aku ambisius, padahal gak juga. Aku cuma melakukan pekerjaanku dengan standar yang aku tentukan sendiri). 

Mendapatkan pekerjaan pertama dengan konsep remote working jadi mimpi yang terealisasikan bagiku saat itu. Aku cuma cukup standby di depan laptop dari jam sembilan pagi hingga lima sore, seperti kebanyakan kantor biasa. Orang bilang pekerjaanku enak soalnya cuma cukup diam di rumah tapi bisa tetap berpendapatan. Padahal kenyataannya, ternyata, gak semudah itu.

Aku mesti dihadapkan dengan atasan yang selain micromanaging punya banyak bendera merah. Aku masih ingat setiap jam sembilan yang kupikirkan hanya, “Bakal ada marah-marah apalagi hari ini?” Belum lagi perasaan berkecamuk dan gak keruan setiap aku mendengar notifikasi WhatsApp yang harus segera dibalas. Kalau nggak, dia bakal ceramahi aku dan yang lain secara virtual dan bertanya, “Kalian lagi ngapain, sih?! Balas pesan gak butuh lima menit, lo.” Hanya saja dalam bahasa Inggris dengan aksen Singapura. 

Ah, masih banyak unek-unek pada mantan—syukurlah sudah mantan—atasanku itu yang kalau aku jabarkan di sini pasti bakal panjang banget. Percayalah, ketika aku tahu ada orang seperti dia aku jadi percaya wujud orang yang penuh dengan bendera merah itu ada. Positifnya? Kami (re: aku dan teman-teman satu tim) jadi cukup tahan banting walau kewarasan kami pernah dikorbankan.

Saat bekerja, jangankan jalan-jalan ke sana ke mari. Ibuku suka bilang, "Menoleh pun gak bisa," karena aku kelewat fokus pada apa yang sedang aku kerjakan. Waktu itu, pekerjaan yang diembankan pada kami gak pernah jelas kapan tenggat waktunya. Terkadang dia mau hari itu juga selesai atau kalimat, “It doesn’t take one hour to work on that, guys,” terlontar. Belum lagi dia yang suka tiba-tiba, “Let’s get on a call.” Tujuannya? Only God knows. Mau ngasih tugas baru atau mau rewel kenapa tugas yang baru diberikannya gak kunjung selesai. On God, gimana mau selesai kalau tiap menit ditanya, “Sudah selesai belum?”

Kebiasaan yang aku bilang barusan bikin aku gak terlalu bisa menikmati hal yang kulakukan di luar pekerjaan. Sesederhana minum air, misalnya. Boro-boro mau menikmati betapa enaknya air putih yang kutenggak, ingat untuk berdiri kemudian mengambil minum juga aku sudah bersyukur. Jangankan bisa menikmati tiap kunyahan makan siang, ingat makan siang juga sudah untung. Hal begini kadang masih terbawa hingga aku menulis draf kiriman ini.

Makan donat enak dengan wawas di Kyomi Space

Selain backstory barusan, kurasa cepatnya informasi yang beredar via ponsel pintar dan adanya kecenderungan jadi FOMO juga jadi salah satu faktor kenapa kewawasanku terkikis. “Kapan terakhir kali aku benar-benar menikmati apa yang sedang kulakukan?” Ironisnya, pertanyaan itu muncul saat aku lagi makan sembari nonton TikTok karena aku merasa makanan yang saat itu kutelan cuma ‘sekadar lewat di tenggorokan’. Makanan itu gak  seenak saat aku benar-benar fokus bahwa aku sedang melakukan aktivitas makan. Segera kututup ponselku dan live in the present; tanpa gangguan, cuma aku dan makananku, dan kujamin rasa makanan itu seketika jadi berbeda dan gak sekadar lewat di tenggorokan.

Dengan hidupku yang berubah hampir 180 derajat (setelah menjadi istri orang), aku masih suka kaget dengan hal yang kujalani hingga hari ini. Singkat cerita, aku resign dari kantor sebelumnya dan kini aku kerja di tempat baru walau yang berubah cuma tugasnya karena aku masih remote working. Ketika di kantor sebelumnya aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali aku minum, di kantor kali ini bahkan aku bisa melakukan hal yang aku mau sambil bekerja. Gak ada juga huru-hara atau drama marah-marahnya atasan yang kerap ada tiap pagi dan bikin sibuk seharian.

Bisa live in the moment, seize the day, or whatever you may want to call it, jujur, terasa aneh (dalam konotasi positif) bagiku. Punya hobi baru yang bisa kukerjakan di sela-sela menunggu balasan talent, masak, atau menyiapkan suami berangkat ke kantor tanpa tiba-tiba di-mention via WhatsApp yang bikin perasaan gak karuan dan ngerjain segala sesuatunya jadi rusuh. Walau sekarang aku berada di mode zen, gak jarang juga aku masih mengerjakan segala sesuatu sambil sesekali mengecek ponsel karena masih ada remahan ketakutan dari yang pernah kualami sebelumnya.

Sekarang, aku pelan-pelan membuang semua sisa ketakutan ini karena aku gak perlu tiba-tiba diajak call yang isinya marah-marah gak perlu nan menguras energi itu. Gak perlu juga mengerjakan sesuatunya terburu-buru karena benar kata Haemin Sunim, there are things you can see only when you slow down, dan itu setidaknya jadi wawas. Jadi, kusarankan di dunia yang serba cepat ini, wawas agar tetap waras.

(´。• •。`) ♡

Kewawasan

October 05, 2022

,

Mindfulness, maksudnya.

Mengutip Oxford Languages, kewawasan diartikan sebagai keadaan mental di mana seseorang fokus pada apa yang terjadi di masa kini—the present—sambil menerima dan mengakui perasaan, pikiran, sensasi yang terjadi pada tubuh, dan ini digunakan sebagai teknik terapeutik. Kurasa masih satu makna dengan frasa ‘to live in the moment’.

Dengan dunia yang berubah sejak dua tahun terakhir, terlintas pertanyaan di benak, “Kapan terakhir kali aku benar-benar wawas dengan apa yang sedang kulakukan?”

Sejak 2019—terdengar sudah lama sekali, ya. Apalagi mengingat bahwa ini tahun sebelum pandemi ada—konsep tempat di mana aku kerja adalah remote working alias aku bisa bekerja dari mana pun aku mau. Jujur saja, aku memang gak membayangkan diriku jadi orang yang bisa terus-terusan melakukan hal repetitif saban hari; bangun pagi, sarapan, berangkat ke dan kerja di kantor, pulang, tidur, dan melakukan yang sama keesokan harinya. Aku juga orang yang biasa-biasa saja dalam melakukan hal, medioker, dan gak ambisius (soalnya ada temanku yang bilang aku ambisius, padahal gak juga. Aku cuma melakukan pekerjaanku dengan standar yang aku tentukan sendiri). 

Mendapatkan pekerjaan pertama dengan konsep remote working jadi mimpi yang terealisasikan bagiku saat itu. Aku cuma cukup standby di depan laptop dari jam sembilan pagi hingga lima sore, seperti kebanyakan kantor biasa. Orang bilang pekerjaanku enak soalnya cuma cukup diam di rumah tapi bisa tetap berpendapatan. Padahal kenyataannya, ternyata, gak semudah itu.

Aku mesti dihadapkan dengan atasan yang selain micromanaging punya banyak bendera merah. Aku masih ingat setiap jam sembilan yang kupikirkan hanya, “Bakal ada marah-marah apalagi hari ini?” Belum lagi perasaan berkecamuk dan gak keruan setiap aku mendengar notifikasi WhatsApp yang harus segera dibalas. Kalau nggak, dia bakal ceramahi aku dan yang lain secara virtual dan bertanya, “Kalian lagi ngapain, sih?! Balas pesan gak butuh lima menit, lo.” Hanya saja dalam bahasa Inggris dengan aksen Singapura. 

Ah, masih banyak unek-unek pada mantan—syukurlah sudah mantan—atasanku itu yang kalau aku jabarkan di sini pasti bakal panjang banget. Percayalah, ketika aku tahu ada orang seperti dia aku jadi percaya wujud orang yang penuh dengan bendera merah itu ada. Positifnya? Kami (re: aku dan teman-teman satu tim) jadi cukup tahan banting walau kewarasan kami pernah dikorbankan.

Saat bekerja, jangankan jalan-jalan ke sana ke mari. Ibuku suka bilang, "Menoleh pun gak bisa," karena aku kelewat fokus pada apa yang sedang aku kerjakan. Waktu itu, pekerjaan yang diembankan pada kami gak pernah jelas kapan tenggat waktunya. Terkadang dia mau hari itu juga selesai atau kalimat, “It doesn’t take one hour to work on that, guys,” terlontar. Belum lagi dia yang suka tiba-tiba, “Let’s get on a call.” Tujuannya? Only God knows. Mau ngasih tugas baru atau mau rewel kenapa tugas yang baru diberikannya gak kunjung selesai. On God, gimana mau selesai kalau tiap menit ditanya, “Sudah selesai belum?”

Kebiasaan yang aku bilang barusan bikin aku gak terlalu bisa menikmati hal yang kulakukan di luar pekerjaan. Sesederhana minum air, misalnya. Boro-boro mau menikmati betapa enaknya air putih yang kutenggak, ingat untuk berdiri kemudian mengambil minum juga aku sudah bersyukur. Jangankan bisa menikmati tiap kunyahan makan siang, ingat makan siang juga sudah untung. Hal begini kadang masih terbawa hingga aku menulis draf kiriman ini.

Makan donat enak dengan wawas di Kyomi Space

Selain backstory barusan, kurasa cepatnya informasi yang beredar via ponsel pintar dan adanya kecenderungan jadi FOMO juga jadi salah satu faktor kenapa kewawasanku terkikis. “Kapan terakhir kali aku benar-benar menikmati apa yang sedang kulakukan?” Ironisnya, pertanyaan itu muncul saat aku lagi makan sembari nonton TikTok karena aku merasa makanan yang saat itu kutelan cuma ‘sekadar lewat di tenggorokan’. Makanan itu gak  seenak saat aku benar-benar fokus bahwa aku sedang melakukan aktivitas makan. Segera kututup ponselku dan live in the present; tanpa gangguan, cuma aku dan makananku, dan kujamin rasa makanan itu seketika jadi berbeda dan gak sekadar lewat di tenggorokan.

Dengan hidupku yang berubah hampir 180 derajat (setelah menjadi istri orang), aku masih suka kaget dengan hal yang kujalani hingga hari ini. Singkat cerita, aku resign dari kantor sebelumnya dan kini aku kerja di tempat baru walau yang berubah cuma tugasnya karena aku masih remote working. Ketika di kantor sebelumnya aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali aku minum, di kantor kali ini bahkan aku bisa melakukan hal yang aku mau sambil bekerja. Gak ada juga huru-hara atau drama marah-marahnya atasan yang kerap ada tiap pagi dan bikin sibuk seharian.

Bisa live in the moment, seize the day, or whatever you may want to call it, jujur, terasa aneh (dalam konotasi positif) bagiku. Punya hobi baru yang bisa kukerjakan di sela-sela menunggu balasan talent, masak, atau menyiapkan suami berangkat ke kantor tanpa tiba-tiba di-mention via WhatsApp yang bikin perasaan gak karuan dan ngerjain segala sesuatunya jadi rusuh. Walau sekarang aku berada di mode zen, gak jarang juga aku masih mengerjakan segala sesuatu sambil sesekali mengecek ponsel karena masih ada remahan ketakutan dari yang pernah kualami sebelumnya.

Sekarang, aku pelan-pelan membuang semua sisa ketakutan ini karena aku gak perlu tiba-tiba diajak call yang isinya marah-marah gak perlu nan menguras energi itu. Gak perlu juga mengerjakan sesuatunya terburu-buru karena benar kata Haemin Sunim, there are things you can see only when you slow down, dan itu setidaknya jadi wawas. Jadi, kusarankan di dunia yang serba cepat ini, wawas agar tetap waras.

(´。• •。`) ♡

One Chocolate Eater