I soared
Beneath the imaginary skies

I cuddled up
Inside the blanket of dreams

I laid
Upon the unsaid thoughts

The cloud nine seemed so close
Yet it's so far to reach

The warmth of hearth
Froze the hell out of me

The tenderness of swan's fur
Broke me instead

The sea of abhor drives me crazy

The drizzle of new hopes paralyzed me

Wobbling on this narrow road,
Made me stumble on a puny pebble made of high hopes and dreams

I should've prepared myself for this fall
I was on the edge, trying to survive 
But I fell over the concrete of nothing

March 18, 2015

Blanked Thoughts

August 08, 2021



I soared
Beneath the imaginary skies

I cuddled up
Inside the blanket of dreams

I laid
Upon the unsaid thoughts

The cloud nine seemed so close
Yet it's so far to reach

The warmth of hearth
Froze the hell out of me

The tenderness of swan's fur
Broke me instead

The sea of abhor drives me crazy

The drizzle of new hopes paralyzed me

Wobbling on this narrow road,
Made me stumble on a puny pebble made of high hopes and dreams

I should've prepared myself for this fall
I was on the edge, trying to survive 
But I fell over the concrete of nothing

March 18, 2015

Tidak, bukan. Tulisan ini tidak akan menjadi dan bukan puisi nan sarat makna seperti gubahan Sapardi Djoko Damono.

Hujan bulan Juli. Tak kusangka hari ini akan datang. Aku selalu menyiapkan diri sedari awal; bilang rindu kalau memang rindu, bilang sayang kalau memang sayang, bilang cinta kalau memang cinta. Hidup cuma sekali. Begitu pun aku pada peliharaanku—kucing-kucingku. Aku bilang kalau aku menyayangi mereka, seraya memantapkan hati kalau aku gak akan selamanya bersama mereka dan sebaliknya.

Hujan bulan Juli. Kenapa? Mengapa hujan padahal langit cerah? Kehilangan dua sahabat dalam waktu yang tak terpaut jauh membuat hatiku pilu. Pedih.


Hujan bulan Juli bagiku

Bulan Juli tidak terlalu menyambutku dengan baik. Memasuki hari kedua di bulan ini, kucingku yang paling kecil meninggalkan aku. Bonnie namanya, seekor kucing ras himalaya bermata biru. Aku memang penyuka kucing. Sependek apapun aku menghabiskan waktu bersama kucing tersebut, aku mudah sayang. Apalagi dengan Bonnie. Satu tahun lebih empat bulan bersamanya tak habis kulimpahkan rasa sayangku padanya. Meongannya yang unik kala merengek membuatnya berbeda. Polahnya yang terkadang nakal tapi lucu bikin aku maklum karena ya, memang sifatnya begitu.

Aku mengadopsinya dari tetangga yang bahkan tidak sampai tiga menit jaraknya dari rumahku. Saat kecil, perawakan Bonnie didominasi bulu putih dan tak terlalu panjang. Seiring dia bertumbuh dan berkembang, warna coklat di beberapa bagian tubuhnya mulai terlihat. Awalnya dia senang dimanja, bermain dengan rambutku, dipeluk, bahkan tidur di atas perutku tak peduli kalau wajahku tertindih badannya. Entah mengapa ketika dia besar, dia lebih senang tidur dengan dan dipeluk adikku. Mungkin karena aku sering jahil. 



Kedatangan Bonnie ke rumahku mungkin membuat kucingku yang paling besar, Kiku, agak cemburu. Jangan tanya aku apa ras kucing yang hampir genap berumur enam tahun ini karena aku juga gak terlalu paham. Bulunya yang didominasi warna hitam dan putih di bagian leher hingga perut membuat perawakannya cukup gagah. Belum lagi persis di bawah dagunya ada bagian bulunya yang berwarna hitam, menjadikannya jadi seperti punya janggut.

Kalau Kiku adalah manusia, aku bakal bilang dia tipe orang yang gak banyak omong, lebih banyak mengamati, dan gak akan terlibat perkelahian apapun. Dia cuma orang yang lebih banyak mendengar. Begitulah adanya. Dia gak suka cari gara-gara (kecuali waktu dia suka pipis sembarangan kalau kesal apa yang dia mau gak dituruti) sewaktu main ke luar. Saat kucing lain berantem perkara wilayah, Kiku bakal cuma mengamati dan melenggang pergi dari pertengkaran tersebut. Ah ya, aku mendapatkan Kiku dari tetangga yang sama yang memberikan aku Bonnie.

Walau awalnya terlihat cemburu, pada akhirnya Kiku dan Bonnie bisa akur juga, bak keponakan dan paman (mengingat selisih umur mereka terpaut lumayan jauh) yang saling bercanda satu sama lain. Sekilas mungkin mereka terlihat sedang bertengkar, padahal seringkali salah satu dari mereka juga mulai jahil.

Kiku dan Bonnie ini kompak kalau perutnya sudah keroncongan. Saat Bonnie mengeong-ngeong bawel kelaparan, Kiku cuma diam aja di depan mangkuk makannya. Kadang yang terjadi sebaliknya.

Aku kangen sekali dengan keberadaan mereka yang biasanya meramaikan suasana rumah, walau seringkali mereka cuma tidur kemudian makan aja. Sesudah itu paling main ke luar entah ke mana.

Bonnie kembali ke pelukan Tuhan karena sakit. Aku gak tahu persis apa penyakit yang dia derita (waktu itu aku gak sempat ikut ke dokter hewan). Awalnya cuma dikasih obat saja tapi gak kunjung sembuh. Setelah beberapa waktu, baru dibawa lagi ke dokter dan kemudian dikateter. Aku cuma berharap dia sembuh, tapi aku juga sudah menyiapkan diri kalau memang dia gak bisa sehat lagi seperti biasanya.

Betul saja, kondisinya berkata lain. Ia malah semakin lemas dan pergi meninggalkan aku beberapa jam kemudian.

Beberapa hari setelah Bonnie gak ada, ibuku mengadopsi kucing kecil berwarna oranye (adikku terpukul sekali karena kehilangan Bonnie, jadi kami mencoba mencari penggantinya). Tinggallah hari-hariku ditemani Kiku dan kucing baru ini, Léon. Awalnya memang agak sulit bagi Léon untuk berkenalan dengan Kiku karena badannya yang terlampau besar dibandingkan ukuran badan Léon. Pun Kiku gak ikutan galak juga kalau-kalau Léon menyeringai galak karena takut pada Kiku. 



Sebelum kepergiannya, Kiku sehat walafiat. Sorenya bahkan masih sempat main bareng Léon di halaman belakang. Keesokan harinya, persis di hari Idul Adha, ayahku berteriak dari halaman depan. Katanya, "Kiku mati."

Aku yang masih setengah sadar—saat itu masih jam setengah 6 kurang—kaget mendengar teriakan ayah, langsung lompat dari kasur dan mendapati Kiku sedang meregang nyawa, keracunan. Badannya yang awalnya segar bugar seketika langsung kurus sekali. Aku pun gak tahu sudah berapa lama dia sudah dalam posisi tersebut. Ah, kalau diingat lagi masih bikin hatiku pilu. Aku bingung banget dan saat itu cuma bisa menangis sambil berkata, "Kiku, kuat, ya. Sebentar," padahal aku gak tahu apa yang harus aku lakukan.

Aku tahu persis hari itu cukup hectic buat beberapa orang karena lagi siap-siap salat Ied. Berhubung ibuku juga cukup sibuk, beliau menyarankan aku lari ke rumah tetangga yang pernah memberikan aku Kiku. Sesampainya di sana, aku cuma bisa ngomong di hadapan ibu dan bapak tetanggaku, "Kiku keracunan," sambil menangis.

Bapak tetanggaku ini baik banget dan sigap langsung mengambil beberapa alat yang ia butuhkan, terutama gula merah. Begitu mendapati Kiku yang masih kesakitan, beliau langsung meracik gula merah tersebut dan mencoba memasukannya ke mulut Kiku menggunakan suntikan khusus. Karena gak kunjung membaik dan mengantisipasi hal terburuk terjadi, kami membawanya ke dokter.

Gak sampai 15 menit kami sudah sampai ke dokter, diantar ayahku. Pintu pagar rumah dokter yang sekaligus tempat praktiknya ini masih tertutup dan cuma ada anaknya yang bermain sepeda di garasi rumah. Tak lama, anaknya yang lain membuka pintu rumah dan bertanya, "Ada apa?" yang dibalas bapak tetanggaku, "Mama ada?" Karena mungkin bingung, anaknya cuma bilang, "Sebentar," kemudian menutup pintu. 

Sekali lagi, aku mengerti hari itu pagi yang hectic karena pasti ada persiapan yang mesti dilakukan demi menyambut Idul Adha. Tapi, aku saat itu berharap banget bisa cepat masuk biar Kiku bisa ditangani. Aku sempat mendengar juga Kiku di kandangnya melenguh saat menunggu dokternya muncul dari pintu. Gak lama, masih anaknya yang keluar dan bertanya lagi, "Kata mama ada apa?" Bapak tetanggaku jawab lagi, "Ini ada kucing keracunan." Anaknya menutup pintu lagi. Di situ aku kesal banget karena tiap detik saat itu sangat berarti. 

Setelah menunggu untuk kedua kalinya, anaknya mengabarkan lagi, "Kata mama tutup." Seketika perasaanku makin gak karuan. Akhirnya, kami memutuskan langsung pergi ke dokter terdekat lainnya.

Sesampainya di sana, bapak tetanggaku lagi mencari bel. Di situ aku mencoba membuka kandang Kiku karena aku dengar-dengar kok sudah gak bersuara. Benar saja, ketika aku buka kandangnya Kiku sudah gak bergerak. Kami pun langsung pulang.

Perpisahan paling menyakitkan adalah satu yang tak dipersiapkan, dan akan selamanya begitu. Pun ketika aku kehilangan Kiku. Sebelum dia dikuburkan, aku cuma menangis di sampingnya dan entah bagaimana, telinga dan mulutnya bergerak, seolah merespon kalimat yang aku ucapkan padanya.

Kepergian kedua kucingku sudah kuikhlaskan. Kini Bonnie dan Kiku mungkin sedang bermain bersama di taman langit, sudah gak kesakitan lagi. Semoga mereka selalu tahu kalau aku selalu menyayangi mereka, dan akan selamanya begitu. See you next time, kucingku sayang.


(´。• ◡ •。`) ♡

Hujan Bulan Juli

August 06, 2021

Tidak, bukan. Tulisan ini tidak akan menjadi dan bukan puisi nan sarat makna seperti gubahan Sapardi Djoko Damono.

Hujan bulan Juli. Tak kusangka hari ini akan datang. Aku selalu menyiapkan diri sedari awal; bilang rindu kalau memang rindu, bilang sayang kalau memang sayang, bilang cinta kalau memang cinta. Hidup cuma sekali. Begitu pun aku pada peliharaanku—kucing-kucingku. Aku bilang kalau aku menyayangi mereka, seraya memantapkan hati kalau aku gak akan selamanya bersama mereka dan sebaliknya.

Hujan bulan Juli. Kenapa? Mengapa hujan padahal langit cerah? Kehilangan dua sahabat dalam waktu yang tak terpaut jauh membuat hatiku pilu. Pedih.


Hujan bulan Juli bagiku

Bulan Juli tidak terlalu menyambutku dengan baik. Memasuki hari kedua di bulan ini, kucingku yang paling kecil meninggalkan aku. Bonnie namanya, seekor kucing ras himalaya bermata biru. Aku memang penyuka kucing. Sependek apapun aku menghabiskan waktu bersama kucing tersebut, aku mudah sayang. Apalagi dengan Bonnie. Satu tahun lebih empat bulan bersamanya tak habis kulimpahkan rasa sayangku padanya. Meongannya yang unik kala merengek membuatnya berbeda. Polahnya yang terkadang nakal tapi lucu bikin aku maklum karena ya, memang sifatnya begitu.

Aku mengadopsinya dari tetangga yang bahkan tidak sampai tiga menit jaraknya dari rumahku. Saat kecil, perawakan Bonnie didominasi bulu putih dan tak terlalu panjang. Seiring dia bertumbuh dan berkembang, warna coklat di beberapa bagian tubuhnya mulai terlihat. Awalnya dia senang dimanja, bermain dengan rambutku, dipeluk, bahkan tidur di atas perutku tak peduli kalau wajahku tertindih badannya. Entah mengapa ketika dia besar, dia lebih senang tidur dengan dan dipeluk adikku. Mungkin karena aku sering jahil. 



Kedatangan Bonnie ke rumahku mungkin membuat kucingku yang paling besar, Kiku, agak cemburu. Jangan tanya aku apa ras kucing yang hampir genap berumur enam tahun ini karena aku juga gak terlalu paham. Bulunya yang didominasi warna hitam dan putih di bagian leher hingga perut membuat perawakannya cukup gagah. Belum lagi persis di bawah dagunya ada bagian bulunya yang berwarna hitam, menjadikannya jadi seperti punya janggut.

Kalau Kiku adalah manusia, aku bakal bilang dia tipe orang yang gak banyak omong, lebih banyak mengamati, dan gak akan terlibat perkelahian apapun. Dia cuma orang yang lebih banyak mendengar. Begitulah adanya. Dia gak suka cari gara-gara (kecuali waktu dia suka pipis sembarangan kalau kesal apa yang dia mau gak dituruti) sewaktu main ke luar. Saat kucing lain berantem perkara wilayah, Kiku bakal cuma mengamati dan melenggang pergi dari pertengkaran tersebut. Ah ya, aku mendapatkan Kiku dari tetangga yang sama yang memberikan aku Bonnie.

Walau awalnya terlihat cemburu, pada akhirnya Kiku dan Bonnie bisa akur juga, bak keponakan dan paman (mengingat selisih umur mereka terpaut lumayan jauh) yang saling bercanda satu sama lain. Sekilas mungkin mereka terlihat sedang bertengkar, padahal seringkali salah satu dari mereka juga mulai jahil.

Kiku dan Bonnie ini kompak kalau perutnya sudah keroncongan. Saat Bonnie mengeong-ngeong bawel kelaparan, Kiku cuma diam aja di depan mangkuk makannya. Kadang yang terjadi sebaliknya.

Aku kangen sekali dengan keberadaan mereka yang biasanya meramaikan suasana rumah, walau seringkali mereka cuma tidur kemudian makan aja. Sesudah itu paling main ke luar entah ke mana.

Bonnie kembali ke pelukan Tuhan karena sakit. Aku gak tahu persis apa penyakit yang dia derita (waktu itu aku gak sempat ikut ke dokter hewan). Awalnya cuma dikasih obat saja tapi gak kunjung sembuh. Setelah beberapa waktu, baru dibawa lagi ke dokter dan kemudian dikateter. Aku cuma berharap dia sembuh, tapi aku juga sudah menyiapkan diri kalau memang dia gak bisa sehat lagi seperti biasanya.

Betul saja, kondisinya berkata lain. Ia malah semakin lemas dan pergi meninggalkan aku beberapa jam kemudian.

Beberapa hari setelah Bonnie gak ada, ibuku mengadopsi kucing kecil berwarna oranye (adikku terpukul sekali karena kehilangan Bonnie, jadi kami mencoba mencari penggantinya). Tinggallah hari-hariku ditemani Kiku dan kucing baru ini, Léon. Awalnya memang agak sulit bagi Léon untuk berkenalan dengan Kiku karena badannya yang terlampau besar dibandingkan ukuran badan Léon. Pun Kiku gak ikutan galak juga kalau-kalau Léon menyeringai galak karena takut pada Kiku. 



Sebelum kepergiannya, Kiku sehat walafiat. Sorenya bahkan masih sempat main bareng Léon di halaman belakang. Keesokan harinya, persis di hari Idul Adha, ayahku berteriak dari halaman depan. Katanya, "Kiku mati."

Aku yang masih setengah sadar—saat itu masih jam setengah 6 kurang—kaget mendengar teriakan ayah, langsung lompat dari kasur dan mendapati Kiku sedang meregang nyawa, keracunan. Badannya yang awalnya segar bugar seketika langsung kurus sekali. Aku pun gak tahu sudah berapa lama dia sudah dalam posisi tersebut. Ah, kalau diingat lagi masih bikin hatiku pilu. Aku bingung banget dan saat itu cuma bisa menangis sambil berkata, "Kiku, kuat, ya. Sebentar," padahal aku gak tahu apa yang harus aku lakukan.

Aku tahu persis hari itu cukup hectic buat beberapa orang karena lagi siap-siap salat Ied. Berhubung ibuku juga cukup sibuk, beliau menyarankan aku lari ke rumah tetangga yang pernah memberikan aku Kiku. Sesampainya di sana, aku cuma bisa ngomong di hadapan ibu dan bapak tetanggaku, "Kiku keracunan," sambil menangis.

Bapak tetanggaku ini baik banget dan sigap langsung mengambil beberapa alat yang ia butuhkan, terutama gula merah. Begitu mendapati Kiku yang masih kesakitan, beliau langsung meracik gula merah tersebut dan mencoba memasukannya ke mulut Kiku menggunakan suntikan khusus. Karena gak kunjung membaik dan mengantisipasi hal terburuk terjadi, kami membawanya ke dokter.

Gak sampai 15 menit kami sudah sampai ke dokter, diantar ayahku. Pintu pagar rumah dokter yang sekaligus tempat praktiknya ini masih tertutup dan cuma ada anaknya yang bermain sepeda di garasi rumah. Tak lama, anaknya yang lain membuka pintu rumah dan bertanya, "Ada apa?" yang dibalas bapak tetanggaku, "Mama ada?" Karena mungkin bingung, anaknya cuma bilang, "Sebentar," kemudian menutup pintu. 

Sekali lagi, aku mengerti hari itu pagi yang hectic karena pasti ada persiapan yang mesti dilakukan demi menyambut Idul Adha. Tapi, aku saat itu berharap banget bisa cepat masuk biar Kiku bisa ditangani. Aku sempat mendengar juga Kiku di kandangnya melenguh saat menunggu dokternya muncul dari pintu. Gak lama, masih anaknya yang keluar dan bertanya lagi, "Kata mama ada apa?" Bapak tetanggaku jawab lagi, "Ini ada kucing keracunan." Anaknya menutup pintu lagi. Di situ aku kesal banget karena tiap detik saat itu sangat berarti. 

Setelah menunggu untuk kedua kalinya, anaknya mengabarkan lagi, "Kata mama tutup." Seketika perasaanku makin gak karuan. Akhirnya, kami memutuskan langsung pergi ke dokter terdekat lainnya.

Sesampainya di sana, bapak tetanggaku lagi mencari bel. Di situ aku mencoba membuka kandang Kiku karena aku dengar-dengar kok sudah gak bersuara. Benar saja, ketika aku buka kandangnya Kiku sudah gak bergerak. Kami pun langsung pulang.

Perpisahan paling menyakitkan adalah satu yang tak dipersiapkan, dan akan selamanya begitu. Pun ketika aku kehilangan Kiku. Sebelum dia dikuburkan, aku cuma menangis di sampingnya dan entah bagaimana, telinga dan mulutnya bergerak, seolah merespon kalimat yang aku ucapkan padanya.

Kepergian kedua kucingku sudah kuikhlaskan. Kini Bonnie dan Kiku mungkin sedang bermain bersama di taman langit, sudah gak kesakitan lagi. Semoga mereka selalu tahu kalau aku selalu menyayangi mereka, dan akan selamanya begitu. See you next time, kucingku sayang.


(´。• ◡ •。`) ♡



It was an ordinary day for both of them
Conversation, laughs
Hugs, kisses
It was usual

She then made him a glass of a hot arabica
For the first time
It was unusual for her

Just the right one how he likes it to be
Apparently
It was unusual for him

He smiled
She smiled

A glass of coffee that was unusual,
yet unordinary for both of them

A Glass of Coffee

July 25, 2021



It was an ordinary day for both of them
Conversation, laughs
Hugs, kisses
It was usual

She then made him a glass of a hot arabica
For the first time
It was unusual for her

Just the right one how he likes it to be
Apparently
It was unusual for him

He smiled
She smiled

A glass of coffee that was unusual,
yet unordinary for both of them

Bergelut di bidang pemasaran gak membuatku alpa dari mana aku memulai. Tak pernah terpikirkan juga kalau aku bakal menyandang gelar sarjana sastra di tahun 2018. Dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, pula.

Aku memang sudah terpapar bahasa Inggris dari aku kelas satu sekolah dasar. Awalnya, aku bukan anak yang unggul dalam bahasa asing ini. Apalagi dulu sebenarnya aku agak terpaksa mengikuti les bahasa Inggris. Namun, seiring berjalannya waktu, struktur gramatika, pengucapan, dan kaidah lain bahasa ini jadi masuk akal buatku tanpa alasan.

Banyaknya tugas yang mengharuskan aku membaca dan menulis dalam bahasa Inggris menjadikanku terbiasa. Entah sudah berapa karya sastra (yang modern; aku masih kesulitan membaca Shakespeare), karya ilmiah, maupun buku pelajaran yang kulahap di masa-masa kuliah. Mau gak mau, suka gak suka.

Kepiawaian menulis dalam bahasa Inggris pun tentunya jadi salah satu keterampilan yang harus kukuasai demi menggapai kelulusan. Faktanya, memang ada beberapa Program Studi Sastra Inggris lainnya yang tidak mengharuskan mahasiswanya menulis skripsi penuh dalam bahasa Inggris. Di kampusku, wajib hukumnya. Belum lagi jurusanku yang berkiblat spesifik pada APA (American Psychological Association) untuk penulisan sitasi yang harus kupelajari juga aturannya.

Belajar bahasa baru dengan memulainya dari bahasa Inggris sekaligus memahami fonetik-fonologi, sintaksis, sosiolinguistik, dan lainnya, jadi lebih mudah buatku. Let alone I was taught Arabic and Germany during middle and high school, respectively. Aku pun sedikit-sedikit belajar bahasa Prancis dan Korea secara autodidak. Semua konsep yang pernah kupelajari dalam bahasa-bahasa tersebut, lagi-lagi, jadi masuk akal begitu saja.



Setelah lulus, pekerjaan pertamaku yang masih kuselami hingga kini mengharuskanku menggunakan bahasa Inggris dalam bentuk ujaran dan tulisan. Empat tahun yang bisa kubilang sangat berfaedah hingga membawaku ke titik yang kujejaki sekarang. Mudah? Tentu saja (jemawa, ya). Enteng buatku untuk memahami apa yang atasan maupun klienku inginkan untuk kampanye pemasaran yang dibutuhkan.

Acap kali aku membuat blog—yang seringnya kuhapus lagi—dengan konten bahasa Inggris, di mana menyalurkan apa yang kurasakan mudah kuuraikan dengan terperinci. Pun dengan kebanyakan takarir yang kuunggah di Instagram-ku. Tak jarang beberapa temanku berkomentar, "Nggak ngerti. Butuh Google Translate."

Mirisnya, kesulitan justru baru kurasakan ketika aku memulai menulis blog ini. Seperti yang bisa dilihat, bahasa yang kugunakan secara umum di sini adalah bahasa Indonesia. Malah terasa agak sukar bagiku untuk mencurahkan apa yang ingin kubagikan. Padahal bahasa ibuku, ya bahasa Indonesia.

Aku tumbuh di tengah keluarga yang menjadikan bahasa Indonesia bahasa pertama. Ayah dan ibuku berasal dari daerah yang berbeda. Mungkin inilah dasar tak sengaja yang menjadikanku memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu.

Minatku untuk membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia terlihat sejak aku kecil. Ayah selalu membelikanku majalah Bobo—yang notabene majalah anak paling terkenal kala itu—setiap hari Kamis. Belum lagi tugas bahasa Indonesia zaman SD yang seringnya menugaskan untuk menulis pengalaman waktu liburan (sering banget gak, sih?). Kata orang tuaku, wali kelas saat aku kelas satu memuji esai yang kutulis karena terkesan genuine (padahal ini cuma karena aku membuka paragraf dengan 'Kan begini ...'). Aku juga sering dinobatkan menjadi salah satu murid dengan peminjam buku terbanyak di perpustakaan.

Hari digantikan minggu, minggu digeser bulan, bulan disambut tahun. Tiba-tiba aku sudah besar (padahal kalau bisa, aku gak mau jadi besar (⊃◜⌓◝⊂)). Masa-masa SMP dan SMA-ku juga dihabiskan dengan membaca buku novel—yang kadang beli sendiri atau pinjam punya teman. Namun, begitu medsos mulai menjamuri dunia remajaku, konten berbahasa Inggris muncul di mana-mana (dulu aku sering pakai Tumblr, Facebook, dan Twitter) dan entah bagaimana pelbagai konten ini terasa dekat dengan peristiwa yang kebanyakan muda-mudi alami saat itu. Tentu saja, demi menjadi relevan, aku jadi salah satu orang yang menulis konten dengan bahasa Inggris.




Siapa sangka ternyata kebiasaan itu (aku gak bilang ini kebiasaan buruk, ya) bikin aku kurang terbiasa menulis dalam bahasa Indonesia, kecuali untuk tugas-tugas tertentu. Ketika aku memulai blog ini, alih-alih blog-walking, aku lebih getol bolak-balik mengakses KBBI versi web untuk mencari padanan kata yang pas untuk ditulis. Dalam hati sering tebersit pertanyaan, "Kok nulis pakai bahasa sendiri aja gak yakin, ya."

Aku mengikuti Ivan Lanin di Twitter dan Instagram sejak lama karena memang tertarik akan aturan bahasa Indonesia yang benar. Menulis blog ini bikin aku lebih sering "main" ke lini masa beliau karena keresahanku atas bahasa yang kugunakan sehari-hari. Lalu, Tuhan punya cara-Nya sendiri untuk menjawab pertanyaanku barusan.

Tiba-tiba, aku terpicu untuk membuka situs Narabahasa dan mendengarkan siniarnya yang tersedia di Spotify. Episode pertamanya dibuka dengan Ivan Lanin membacakan pidato kebahasaan yang berjudul "Pesan Tak Sampai". Semua yang beliau sampaikan relevan dengan apa yang aku rasakan. Aku semakin mengulik apa-apa saja yang belum aku ketahui di episode-episode selanjutnya. Omong-omong, aku nulis ini gak disponsori lho, ya.

Semua yang dikatakan beliau benar. Kenapa aku lebih tahu pasangan 'neither' adalah 'nor' ketimbang pasangan 'bukan' adalah 'melainkan'? Kenapa aku baru sadar kalau bahasa Indonesia juga menggunakan Oxford comma, seperti bahasa Inggris? Kenapa aku baru tahu arti 'suasana' berbeda dengan 'nuansa'? Lho, beda toh, pemakaian 'sudah' dan 'telah'? Ini jadi refleksi buatku kalau aku ternyata punya banyak PR untuk belajar bahasa sendiri.

Tentu saja, mempelajari bahasa selama empat tahun kuliah bikin aku triggered terhadap kesalahan sekecil apa pun yang muncul dalam bentuk tulisan. Balik lagi seperti pertanyaan di atas, kenapa aku lebih paham kesalahan yang ada di bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia? Kalau mengutip sedikit kalimat dari "Pesan Tak Sampai", aku seperti "lebih memperhatikan pasangan orang lain daripada pasangan sendiri."

Dulu aku sempat berpikiran kalau menulis dalam bahasa Indonesia terkesan kaku. Nyatanya gak juga, walaupun mungkin memang persona yang aku timbulkan saat nulis pakai bahasa Indonesia jadi beda dibanding kalau aku nulis pakai bahasa Inggris.

Banyak juga kosakata dalam bahasa Indonesia yang baru aku ketahui—lewah, kama, Wrisaba, repih, dan lain-lain. Aku selalu meyakini kalau mempelajari bahasa adalah pelajaran seumur hidup terlepas apa pun bahasanya; banyak banget yang belum kita ketahui. Menulis blog ini pun aku gak yakin penulisannya sudah benar, mana masih diselang-seling pakai bahasa Inggris, lagi. Tapi gak apa-apa, seenggaknya aku mencoba.

(´。• ◡ •。`) ♡

Bahasa Ibuku

July 15, 2021

Bergelut di bidang pemasaran gak membuatku alpa dari mana aku memulai. Tak pernah terpikirkan juga kalau aku bakal menyandang gelar sarjana sastra di tahun 2018. Dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, pula.

Aku memang sudah terpapar bahasa Inggris dari aku kelas satu sekolah dasar. Awalnya, aku bukan anak yang unggul dalam bahasa asing ini. Apalagi dulu sebenarnya aku agak terpaksa mengikuti les bahasa Inggris. Namun, seiring berjalannya waktu, struktur gramatika, pengucapan, dan kaidah lain bahasa ini jadi masuk akal buatku tanpa alasan.

Banyaknya tugas yang mengharuskan aku membaca dan menulis dalam bahasa Inggris menjadikanku terbiasa. Entah sudah berapa karya sastra (yang modern; aku masih kesulitan membaca Shakespeare), karya ilmiah, maupun buku pelajaran yang kulahap di masa-masa kuliah. Mau gak mau, suka gak suka.

Kepiawaian menulis dalam bahasa Inggris pun tentunya jadi salah satu keterampilan yang harus kukuasai demi menggapai kelulusan. Faktanya, memang ada beberapa Program Studi Sastra Inggris lainnya yang tidak mengharuskan mahasiswanya menulis skripsi penuh dalam bahasa Inggris. Di kampusku, wajib hukumnya. Belum lagi jurusanku yang berkiblat spesifik pada APA (American Psychological Association) untuk penulisan sitasi yang harus kupelajari juga aturannya.

Belajar bahasa baru dengan memulainya dari bahasa Inggris sekaligus memahami fonetik-fonologi, sintaksis, sosiolinguistik, dan lainnya, jadi lebih mudah buatku. Let alone I was taught Arabic and Germany during middle and high school, respectively. Aku pun sedikit-sedikit belajar bahasa Prancis dan Korea secara autodidak. Semua konsep yang pernah kupelajari dalam bahasa-bahasa tersebut, lagi-lagi, jadi masuk akal begitu saja.



Setelah lulus, pekerjaan pertamaku yang masih kuselami hingga kini mengharuskanku menggunakan bahasa Inggris dalam bentuk ujaran dan tulisan. Empat tahun yang bisa kubilang sangat berfaedah hingga membawaku ke titik yang kujejaki sekarang. Mudah? Tentu saja (jemawa, ya). Enteng buatku untuk memahami apa yang atasan maupun klienku inginkan untuk kampanye pemasaran yang dibutuhkan.

Acap kali aku membuat blog—yang seringnya kuhapus lagi—dengan konten bahasa Inggris, di mana menyalurkan apa yang kurasakan mudah kuuraikan dengan terperinci. Pun dengan kebanyakan takarir yang kuunggah di Instagram-ku. Tak jarang beberapa temanku berkomentar, "Nggak ngerti. Butuh Google Translate."

Mirisnya, kesulitan justru baru kurasakan ketika aku memulai menulis blog ini. Seperti yang bisa dilihat, bahasa yang kugunakan secara umum di sini adalah bahasa Indonesia. Malah terasa agak sukar bagiku untuk mencurahkan apa yang ingin kubagikan. Padahal bahasa ibuku, ya bahasa Indonesia.

Aku tumbuh di tengah keluarga yang menjadikan bahasa Indonesia bahasa pertama. Ayah dan ibuku berasal dari daerah yang berbeda. Mungkin inilah dasar tak sengaja yang menjadikanku memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu.

Minatku untuk membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia terlihat sejak aku kecil. Ayah selalu membelikanku majalah Bobo—yang notabene majalah anak paling terkenal kala itu—setiap hari Kamis. Belum lagi tugas bahasa Indonesia zaman SD yang seringnya menugaskan untuk menulis pengalaman waktu liburan (sering banget gak, sih?). Kata orang tuaku, wali kelas saat aku kelas satu memuji esai yang kutulis karena terkesan genuine (padahal ini cuma karena aku membuka paragraf dengan 'Kan begini ...'). Aku juga sering dinobatkan menjadi salah satu murid dengan peminjam buku terbanyak di perpustakaan.

Hari digantikan minggu, minggu digeser bulan, bulan disambut tahun. Tiba-tiba aku sudah besar (padahal kalau bisa, aku gak mau jadi besar (⊃◜⌓◝⊂)). Masa-masa SMP dan SMA-ku juga dihabiskan dengan membaca buku novel—yang kadang beli sendiri atau pinjam punya teman. Namun, begitu medsos mulai menjamuri dunia remajaku, konten berbahasa Inggris muncul di mana-mana (dulu aku sering pakai Tumblr, Facebook, dan Twitter) dan entah bagaimana pelbagai konten ini terasa dekat dengan peristiwa yang kebanyakan muda-mudi alami saat itu. Tentu saja, demi menjadi relevan, aku jadi salah satu orang yang menulis konten dengan bahasa Inggris.




Siapa sangka ternyata kebiasaan itu (aku gak bilang ini kebiasaan buruk, ya) bikin aku kurang terbiasa menulis dalam bahasa Indonesia, kecuali untuk tugas-tugas tertentu. Ketika aku memulai blog ini, alih-alih blog-walking, aku lebih getol bolak-balik mengakses KBBI versi web untuk mencari padanan kata yang pas untuk ditulis. Dalam hati sering tebersit pertanyaan, "Kok nulis pakai bahasa sendiri aja gak yakin, ya."

Aku mengikuti Ivan Lanin di Twitter dan Instagram sejak lama karena memang tertarik akan aturan bahasa Indonesia yang benar. Menulis blog ini bikin aku lebih sering "main" ke lini masa beliau karena keresahanku atas bahasa yang kugunakan sehari-hari. Lalu, Tuhan punya cara-Nya sendiri untuk menjawab pertanyaanku barusan.

Tiba-tiba, aku terpicu untuk membuka situs Narabahasa dan mendengarkan siniarnya yang tersedia di Spotify. Episode pertamanya dibuka dengan Ivan Lanin membacakan pidato kebahasaan yang berjudul "Pesan Tak Sampai". Semua yang beliau sampaikan relevan dengan apa yang aku rasakan. Aku semakin mengulik apa-apa saja yang belum aku ketahui di episode-episode selanjutnya. Omong-omong, aku nulis ini gak disponsori lho, ya.

Semua yang dikatakan beliau benar. Kenapa aku lebih tahu pasangan 'neither' adalah 'nor' ketimbang pasangan 'bukan' adalah 'melainkan'? Kenapa aku baru sadar kalau bahasa Indonesia juga menggunakan Oxford comma, seperti bahasa Inggris? Kenapa aku baru tahu arti 'suasana' berbeda dengan 'nuansa'? Lho, beda toh, pemakaian 'sudah' dan 'telah'? Ini jadi refleksi buatku kalau aku ternyata punya banyak PR untuk belajar bahasa sendiri.

Tentu saja, mempelajari bahasa selama empat tahun kuliah bikin aku triggered terhadap kesalahan sekecil apa pun yang muncul dalam bentuk tulisan. Balik lagi seperti pertanyaan di atas, kenapa aku lebih paham kesalahan yang ada di bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia? Kalau mengutip sedikit kalimat dari "Pesan Tak Sampai", aku seperti "lebih memperhatikan pasangan orang lain daripada pasangan sendiri."

Dulu aku sempat berpikiran kalau menulis dalam bahasa Indonesia terkesan kaku. Nyatanya gak juga, walaupun mungkin memang persona yang aku timbulkan saat nulis pakai bahasa Indonesia jadi beda dibanding kalau aku nulis pakai bahasa Inggris.

Banyak juga kosakata dalam bahasa Indonesia yang baru aku ketahui—lewah, kama, Wrisaba, repih, dan lain-lain. Aku selalu meyakini kalau mempelajari bahasa adalah pelajaran seumur hidup terlepas apa pun bahasanya; banyak banget yang belum kita ketahui. Menulis blog ini pun aku gak yakin penulisannya sudah benar, mana masih diselang-seling pakai bahasa Inggris, lagi. Tapi gak apa-apa, seenggaknya aku mencoba.

(´。• ◡ •。`) ♡

Bandung Barat akhir-akhir ini dingin banget (dengan jujur mengaku kalau aku tinggalnya gak di Bandung kota. A proud anak kabupaten here!). Aku tahu lokasi kediamanku terletak di daerah yang tiap paginya kerap disambut suhu 18°C. Walau begitu, belakangan memang terasa lebih dingin dari biasanya.

Meski langit cerah dan matahari kerap membasuhi sinar hangatnya, angin yang berembus malah bikin aku menggigil. Terkadang hujan juga, gak terprediksi. Kendati gak menentunya cuaca, aku lebih senang begini. Gak terlalu panas dan seimbang dengan atmosfer dingin yang aku inginkan.


Di kondisi yang dingin dan pandemi belum kunjung usai ini, salah satu rutinitas baru harianku adalah minum wedang jahe buatan sendiri. Selain memang karena memang profil minuman ini cocok untuk dinikmati ketika udara dingin, suguhan tradisional ini ampuh buat menangkal penyakit.

Setelah beberapa anggota keluargaku dinyatakan positif karena si virus itu, ibuku jadi rajin bikin wedang jahe untuk dikonsumsi di rumah. Awalnya, aku sendiri gak sering minum karena emang gak mau aja. Tapi, setelah aku ngerasa ada yang menyumbat hidungku dan mulai konsumsi si wedang pedas ini, seketika sembuh aja, gitu. Dari situ baru deh aku jadi hobi minumnya.



Seperti yang aku bilang di post sebelumnya, aku mau kasih tahu gimana caranya bikin wedang jahe. Gak susah kok bikinnya, soalnya semuanya pakai ilmu kira-kira (• ε •). Bahannya juga gak mahal kurasa, kecuali kalo teman-teman memang mau pakai jahe merah, ya. 

Bahannya cuma empat; jahe, serai, gula merah, dan air. Ini bahannya masing-masing disesuaikan aja  kebutuhan teman-teman mau bikin seberapa banyak. Kalau aku biasanya langsung bikin seukuran satu panci presto biar sekaligus jadi.

Di sini aku pake jahe biasa semua, kadang dicampur sama jahe merah kalau ada stoknya. Jahe ini terus aku kupas, cuci sampai bersih, baru iris tipis-tipis. Untuk ngirisnya gak ada trik tertentu sih, cuma aku suka potongnya memanjang biar cepat selesai ଘ(੭ˊᵕˋ)੭.

Setelah selesai diiris, baru aku masukin semua bahan yang tadi aku sebutin ke dalam presto (ini karena aku gak punya panci yang cukup besar. Pakai panci biasa juga gak masalah). Jangan lupa serainya digeprek dulu, dan jumlah serai, gula merah, sama airnya disesuaikan aja sama banyaknya wedang jahe yang mau teman-teman bikin. Karena aku bikinnya dalam batch yang cukup banyak, segini besar gula merah yang aku pakai (biasanya kalau di daerah ibuku disebutnya selirang). Untuk serai lupa gak aku foto gapapa, ya ≧◡≦.




Agak besar memang, cuma kadang masih suka aku tambahin lagi kalau rasa manisnya belum sesuai sama lidahku. Kalau udah semua bahan masuk ke dalam panci, tinggal nyalakan kompor dan let fire does the work✨. Tunggu sampai mendidih, et voilà, wedang jahe swakarya bisa teman-teman nikmati♡. Mudah kan, cara buatnya?

Sehari aku bisa menghabiskan 3-5 gelas sendiri, karena emang cocok banget buat menemani aku pas lagi kerja. Berasa lagi dipeluk dari dalam, hangat (I know this doesn't quite make any sense but please bear with me ╥﹏╥). Belum lagi cuaca di siang hari sekarang suka mendung kemudian hujan. Pokoknya udah deh, pelukan wedang jahe gak pernah salah musim gini.

Kalau teman-teman sendiri gimana? Apa rutinitas baru yang sekarang lagi sering dilakukan? Atau mau ikutan dipeluk wedang jahe juga, mungkin?


(´。• ◡ •。`) ♡

Bandung Barat dan Pelukan Wedang Jahe

July 13, 2021

,

Bandung Barat akhir-akhir ini dingin banget (dengan jujur mengaku kalau aku tinggalnya gak di Bandung kota. A proud anak kabupaten here!). Aku tahu lokasi kediamanku terletak di daerah yang tiap paginya kerap disambut suhu 18°C. Walau begitu, belakangan memang terasa lebih dingin dari biasanya.

Meski langit cerah dan matahari kerap membasuhi sinar hangatnya, angin yang berembus malah bikin aku menggigil. Terkadang hujan juga, gak terprediksi. Kendati gak menentunya cuaca, aku lebih senang begini. Gak terlalu panas dan seimbang dengan atmosfer dingin yang aku inginkan.


Di kondisi yang dingin dan pandemi belum kunjung usai ini, salah satu rutinitas baru harianku adalah minum wedang jahe buatan sendiri. Selain memang karena memang profil minuman ini cocok untuk dinikmati ketika udara dingin, suguhan tradisional ini ampuh buat menangkal penyakit.

Setelah beberapa anggota keluargaku dinyatakan positif karena si virus itu, ibuku jadi rajin bikin wedang jahe untuk dikonsumsi di rumah. Awalnya, aku sendiri gak sering minum karena emang gak mau aja. Tapi, setelah aku ngerasa ada yang menyumbat hidungku dan mulai konsumsi si wedang pedas ini, seketika sembuh aja, gitu. Dari situ baru deh aku jadi hobi minumnya.



Seperti yang aku bilang di post sebelumnya, aku mau kasih tahu gimana caranya bikin wedang jahe. Gak susah kok bikinnya, soalnya semuanya pakai ilmu kira-kira (• ε •). Bahannya juga gak mahal kurasa, kecuali kalo teman-teman memang mau pakai jahe merah, ya. 

Bahannya cuma empat; jahe, serai, gula merah, dan air. Ini bahannya masing-masing disesuaikan aja  kebutuhan teman-teman mau bikin seberapa banyak. Kalau aku biasanya langsung bikin seukuran satu panci presto biar sekaligus jadi.

Di sini aku pake jahe biasa semua, kadang dicampur sama jahe merah kalau ada stoknya. Jahe ini terus aku kupas, cuci sampai bersih, baru iris tipis-tipis. Untuk ngirisnya gak ada trik tertentu sih, cuma aku suka potongnya memanjang biar cepat selesai ଘ(੭ˊᵕˋ)੭.

Setelah selesai diiris, baru aku masukin semua bahan yang tadi aku sebutin ke dalam presto (ini karena aku gak punya panci yang cukup besar. Pakai panci biasa juga gak masalah). Jangan lupa serainya digeprek dulu, dan jumlah serai, gula merah, sama airnya disesuaikan aja sama banyaknya wedang jahe yang mau teman-teman bikin. Karena aku bikinnya dalam batch yang cukup banyak, segini besar gula merah yang aku pakai (biasanya kalau di daerah ibuku disebutnya selirang). Untuk serai lupa gak aku foto gapapa, ya ≧◡≦.




Agak besar memang, cuma kadang masih suka aku tambahin lagi kalau rasa manisnya belum sesuai sama lidahku. Kalau udah semua bahan masuk ke dalam panci, tinggal nyalakan kompor dan let fire does the work✨. Tunggu sampai mendidih, et voilà, wedang jahe swakarya bisa teman-teman nikmati♡. Mudah kan, cara buatnya?

Sehari aku bisa menghabiskan 3-5 gelas sendiri, karena emang cocok banget buat menemani aku pas lagi kerja. Berasa lagi dipeluk dari dalam, hangat (I know this doesn't quite make any sense but please bear with me ╥﹏╥). Belum lagi cuaca di siang hari sekarang suka mendung kemudian hujan. Pokoknya udah deh, pelukan wedang jahe gak pernah salah musim gini.

Kalau teman-teman sendiri gimana? Apa rutinitas baru yang sekarang lagi sering dilakukan? Atau mau ikutan dipeluk wedang jahe juga, mungkin?


(´。• ◡ •。`) ♡

It's been years since the last time I've written on a blog. Semoga kali ini lebih rajin lagi untuk menulis.

Blog ini mulai digarap di bulan Juli, tanggal 10 tepatnya. Aku bukan orang yang punya ingatan bagus untuk jangka waktu panjang. Jadi, kuharap blog ini bisa jadi pengingat untuk apa-apa yang sudah terjadi di keseharianku. 

Ini tahun kedua setelah sebuah virus baru datang ke Indonesia, COVID-19. Kondisi tahun ini jauh lebih parah. Kalau baca @nuicemedia di Twitter, tiap harinya Indonesia mecahin rekor sendiri untuk kasus orang yang terjangkit virus ini. Belum lagi adanya varian baru virus ini yang bikin penyebarannya lebih cepat. Tak ayal, akhir-akhir ini kebanyakan update baik di story Instagram maupun lini masa di Twitter-ku isinya selain berita dukacita, ya suara orang-orang yang minta bantuan untuk donor plasma konvalesen atau suplai oksigen untuk keluarganya. It's quite depressing somehow. 

Bicara paragraf di atas bukan berarti kondisi di lingkunganku baik-baik aja. Gak juga. Beberapa hari ke belakang aku baru kehilangan salah satu teman sepermainan. Walau gak dekat lagi setelah beranjak besar, rasa kehilangan tetap ada. Rasanya kayak percaya gak percaya aja gitu, kalau dia udah berpulang.

Beberapa orang-orang terdekatku juga dinyatakan positif—keluarga dan pacarku. Alhamdulillah, beberapa anggota keluargaku udah negatif karena perawatannya cukup intensif dan cuma ngalamin gejala ringan. Untuk pacarku sendiri, dia isoman di rumahnya. Cukup bikin aku stres dan bingung juga sih walau bergejala ringan. Selain jadi gak bisa ketemu, aku cuma bisa mantau jarak jauh via WhatsApp dan ngirim makanan pake jasa ojek online (ᴗ_ ᴗ。).

Makanya, sekarang di Jawa-Bali diberlakukan PPKM biar penyebaran virusnya gak makin parah. Rutinitasku yang mayoritas memang sering di rumah, makin di rumah aja karena gak bisa ke mana-mana. Kerjaanku full remote bahkan dari sebelum ada pandemi. Kalau bahasa sekarang WFH, cenah. Jadi ya, sehari-harinya aku emang anak rumahan banget. Tapi, adanya pandemi gini bikin kesal soalnya jadi gak bisa kerja di kafe. Salah satu tujuanku nyari kerja yang remote ya biar aku bisa kerja di mana aja, gak melulu di rumah maupun kantor.

Ya walau barusan aku protes, gak ada yang menarik juga sih dari rutinitasku karena gitu-gitu aja. Kalau hari kerja, aku bangun pagi lalu salat subuh, bersih-bersih rumah, terus bikin sarapan. Begitu ayah udah berangkat ke kantor, baru biasanya aku mulai skipping. Skipping ini juga olahraga yang baru aku tekuni pas pandemi ini, cuma belakangan emang lagi males banget buat mulai (。•ˇ‸ˇ•。). Setelahnya, baru aku mandi kemudian mulai kerja dari jam 9 pagi sampe 5 sore. Di akhir pekan sama aja, cuma jam bikin sarapan jadi agak mundur dan aku andil untuk nyetrika baju (•̀ᴗ•́ )و .

Demi mendapatkan ketenangan karena banyaknya berita duka dan kebingungan ini yang bikin aku cukup overwhelmed, aku mencoba untuk melakukan sesuatu di luar rutinitasku. Menulis di blog ini salah satunya. Selain itu, aku juga mau bikin ruang kerja di rumah keduaku. Jadilah beberapa hari ke belakang salah satu rutinitasku mantau pengecatan ulang di rumah itu, dibantu sama ibu. Maklum baru selesai dikontrak orang, jadi agak pudar warnanya. Hal-hal ini mungkin coping mechanism-ku di kondisi sekarang, kurasa.

Waktu renovasi ulang rumah kedua ini dilakukan di jam aku kerja. Sejujurnya agak repot dan gak terlalu bikin betah karena belum ada koneksi internet. Walaupun aku udah coba untuk mengandalkan Mi-Fi, sinyalnya gak bersahabat banget. Barulah kemarin aku minta untuk dipasangin WiFi supaya makin betah untuk getaway berlama-lama di sana.




Ini pemandangan yang senang kunikmati di halaman belakang. Walau rumah ini gak terlalu besar, buatku teras dan halaman belakangnya nyaman buat melepas penat dari keseharianku di hari kerja. Ruangan yang nantinya mau aku jadikan ruang kerja juga bakal menghadap langsung ke halaman ini. Lumayan, bisa menghirup udara segar kalau kerjaan lagi bikin pusing karena pemandangannya hijau. Halaman belakang ini cukup luas sebenarnya, cuma belum ada foto yang memadai jadi kapan-kapan aja deh aku share di sini. 

Hal sesederhana ngeberesin rumah dan punya ide untuk bikin ruang kerja sudah cukup melegakan buatku sekarang. Seenggaknya ada hal lain yang bisa aku pikirin daripada terus-terusan buka medsos yang suka ada aja konten yang aneh-aneh. Capek.




To be able to be healthy is such a privilege now. Aku bersyukur caraku untuk melepas the overwhelmingness gak repot-repot amat (except the renovating part hahaha!). Bersyukur juga keluarga intiku nurut untuk gak ke mana-mana dan mau disuruh vaksin. The simplest things in life now is an abundance one can hope for. I hope everyone can go through all these.

Oh iya, kayak yang tadi aku sebutin sebelumnya, salah satu rutinitasku pas PPKM ini aku jadi sering kirim makanan ke rumah pacarku. Gak cuma makanan, aku sering juga kirimin dia wedang jahe. Besok-besok bakal aku kasih tau juga deh cara bikinnya, sekalian untuk nambah konten di blog ini. Siapa tahu bikin wedang jahe bisa jadi coping mechanism temen-temen yang baca blog ini. Please do be safe and healthy. See you next time!

(´。• ◡ •。`) ♡

My Coping Mechanism During Pandemic

July 11, 2021

It's been years since the last time I've written on a blog. Semoga kali ini lebih rajin lagi untuk menulis.

Blog ini mulai digarap di bulan Juli, tanggal 10 tepatnya. Aku bukan orang yang punya ingatan bagus untuk jangka waktu panjang. Jadi, kuharap blog ini bisa jadi pengingat untuk apa-apa yang sudah terjadi di keseharianku. 

Ini tahun kedua setelah sebuah virus baru datang ke Indonesia, COVID-19. Kondisi tahun ini jauh lebih parah. Kalau baca @nuicemedia di Twitter, tiap harinya Indonesia mecahin rekor sendiri untuk kasus orang yang terjangkit virus ini. Belum lagi adanya varian baru virus ini yang bikin penyebarannya lebih cepat. Tak ayal, akhir-akhir ini kebanyakan update baik di story Instagram maupun lini masa di Twitter-ku isinya selain berita dukacita, ya suara orang-orang yang minta bantuan untuk donor plasma konvalesen atau suplai oksigen untuk keluarganya. It's quite depressing somehow. 

Bicara paragraf di atas bukan berarti kondisi di lingkunganku baik-baik aja. Gak juga. Beberapa hari ke belakang aku baru kehilangan salah satu teman sepermainan. Walau gak dekat lagi setelah beranjak besar, rasa kehilangan tetap ada. Rasanya kayak percaya gak percaya aja gitu, kalau dia udah berpulang.

Beberapa orang-orang terdekatku juga dinyatakan positif—keluarga dan pacarku. Alhamdulillah, beberapa anggota keluargaku udah negatif karena perawatannya cukup intensif dan cuma ngalamin gejala ringan. Untuk pacarku sendiri, dia isoman di rumahnya. Cukup bikin aku stres dan bingung juga sih walau bergejala ringan. Selain jadi gak bisa ketemu, aku cuma bisa mantau jarak jauh via WhatsApp dan ngirim makanan pake jasa ojek online (ᴗ_ ᴗ。).

Makanya, sekarang di Jawa-Bali diberlakukan PPKM biar penyebaran virusnya gak makin parah. Rutinitasku yang mayoritas memang sering di rumah, makin di rumah aja karena gak bisa ke mana-mana. Kerjaanku full remote bahkan dari sebelum ada pandemi. Kalau bahasa sekarang WFH, cenah. Jadi ya, sehari-harinya aku emang anak rumahan banget. Tapi, adanya pandemi gini bikin kesal soalnya jadi gak bisa kerja di kafe. Salah satu tujuanku nyari kerja yang remote ya biar aku bisa kerja di mana aja, gak melulu di rumah maupun kantor.

Ya walau barusan aku protes, gak ada yang menarik juga sih dari rutinitasku karena gitu-gitu aja. Kalau hari kerja, aku bangun pagi lalu salat subuh, bersih-bersih rumah, terus bikin sarapan. Begitu ayah udah berangkat ke kantor, baru biasanya aku mulai skipping. Skipping ini juga olahraga yang baru aku tekuni pas pandemi ini, cuma belakangan emang lagi males banget buat mulai (。•ˇ‸ˇ•。). Setelahnya, baru aku mandi kemudian mulai kerja dari jam 9 pagi sampe 5 sore. Di akhir pekan sama aja, cuma jam bikin sarapan jadi agak mundur dan aku andil untuk nyetrika baju (•̀ᴗ•́ )و .

Demi mendapatkan ketenangan karena banyaknya berita duka dan kebingungan ini yang bikin aku cukup overwhelmed, aku mencoba untuk melakukan sesuatu di luar rutinitasku. Menulis di blog ini salah satunya. Selain itu, aku juga mau bikin ruang kerja di rumah keduaku. Jadilah beberapa hari ke belakang salah satu rutinitasku mantau pengecatan ulang di rumah itu, dibantu sama ibu. Maklum baru selesai dikontrak orang, jadi agak pudar warnanya. Hal-hal ini mungkin coping mechanism-ku di kondisi sekarang, kurasa.

Waktu renovasi ulang rumah kedua ini dilakukan di jam aku kerja. Sejujurnya agak repot dan gak terlalu bikin betah karena belum ada koneksi internet. Walaupun aku udah coba untuk mengandalkan Mi-Fi, sinyalnya gak bersahabat banget. Barulah kemarin aku minta untuk dipasangin WiFi supaya makin betah untuk getaway berlama-lama di sana.




Ini pemandangan yang senang kunikmati di halaman belakang. Walau rumah ini gak terlalu besar, buatku teras dan halaman belakangnya nyaman buat melepas penat dari keseharianku di hari kerja. Ruangan yang nantinya mau aku jadikan ruang kerja juga bakal menghadap langsung ke halaman ini. Lumayan, bisa menghirup udara segar kalau kerjaan lagi bikin pusing karena pemandangannya hijau. Halaman belakang ini cukup luas sebenarnya, cuma belum ada foto yang memadai jadi kapan-kapan aja deh aku share di sini. 

Hal sesederhana ngeberesin rumah dan punya ide untuk bikin ruang kerja sudah cukup melegakan buatku sekarang. Seenggaknya ada hal lain yang bisa aku pikirin daripada terus-terusan buka medsos yang suka ada aja konten yang aneh-aneh. Capek.




To be able to be healthy is such a privilege now. Aku bersyukur caraku untuk melepas the overwhelmingness gak repot-repot amat (except the renovating part hahaha!). Bersyukur juga keluarga intiku nurut untuk gak ke mana-mana dan mau disuruh vaksin. The simplest things in life now is an abundance one can hope for. I hope everyone can go through all these.

Oh iya, kayak yang tadi aku sebutin sebelumnya, salah satu rutinitasku pas PPKM ini aku jadi sering kirim makanan ke rumah pacarku. Gak cuma makanan, aku sering juga kirimin dia wedang jahe. Besok-besok bakal aku kasih tau juga deh cara bikinnya, sekalian untuk nambah konten di blog ini. Siapa tahu bikin wedang jahe bisa jadi coping mechanism temen-temen yang baca blog ini. Please do be safe and healthy. See you next time!

(´。• ◡ •。`) ♡
One Chocolate Eater