Your favorite childhood channel
suddenly uploads its most beloved movie,
but it’s suddenly their twenty-year anniversary.

You watch it,
screaming your lungs out,
knowing every word to the songs,
and suddenly you’re ten again.

Suddenly, you’re ten again.
Your mom picks you up from the public school you attend to on Fridays,
a place you neither like nor dislike,
where existing is just enough.

Suddenly, you’re ten again.
where your first-world problem
is deciding whether or not to attend
the English course your mom has signed you up for.
You can’t help but wonder if
the class will help you long enough
until the future arrives.

Suddenly, you’re ten again,
and your mom takes you by public transportation,
and the breeze of Friday winds are always refreshing,
and the sun happily brightening your mood,
and you know if it’s like this, it’s just Friday.

Suddenly, you’re ten again.
Every Friday, you would still come up to the class,
even though a wee little part of you doesn't want to,
even though you feel like you’re on the outside,
even though you feel you might, maybe, belong.

Suddenly, you’re ten again,
where the waft of the drooling meals from the canteen
draws you enough to finally make you say,
“I’ll have a chicken wing, 3.45.”

Aku, adik, dan si sedan merah

Suddenly, you’re ten again.
Your father’s old red bright Toyota Corolla GL sedan waits
outside your course place, and you hop into it,
where he plays his favorite evergreens.

Suddenly, you’re ten again.
You get excited, wondering if he’ll turn right or left,
for right means going home,
and left means play since tomorrow’s weekend.

Suddenly, it is twenty years ago,
and the song ends,
but you stay a little longer,
for you're a ten-year-old,
not wanting to grow up yet.

And Suddenly, You’re Ten Again

January 31, 2026

Your favorite childhood channel
suddenly uploads its most beloved movie,
but it’s suddenly their twenty-year anniversary.

You watch it,
screaming your lungs out,
knowing every word to the songs,
and suddenly you’re ten again.

Suddenly, you’re ten again.
Your mom picks you up from the public school you attend to on Fridays,
a place you neither like nor dislike,
where existing is just enough.

Suddenly, you’re ten again.
where your first-world problem
is deciding whether or not to attend
the English course your mom has signed you up for.
You can’t help but wonder if
the class will help you long enough
until the future arrives.

Suddenly, you’re ten again,
and your mom takes you by public transportation,
and the breeze of Friday winds are always refreshing,
and the sun happily brightening your mood,
and you know if it’s like this, it’s just Friday.

Suddenly, you’re ten again.
Every Friday, you would still come up to the class,
even though a wee little part of you doesn't want to,
even though you feel like you’re on the outside,
even though you feel you might, maybe, belong.

Suddenly, you’re ten again,
where the waft of the drooling meals from the canteen
draws you enough to finally make you say,
“I’ll have a chicken wing, 3.45.”

Aku, adik, dan si sedan merah

Suddenly, you’re ten again.
Your father’s old red bright Toyota Corolla GL sedan waits
outside your course place, and you hop into it,
where he plays his favorite evergreens.

Suddenly, you’re ten again.
You get excited, wondering if he’ll turn right or left,
for right means going home,
and left means play since tomorrow’s weekend.

Suddenly, it is twenty years ago,
and the song ends,
but you stay a little longer,
for you're a ten-year-old,
not wanting to grow up yet.

Aku baru saja bangun tidur siang. Ternyata sudah cukup lama semenjak ayah mampir ke mimpiku, bikin aku terbangun dengan emosi yang cukup bergolak.

Kian hari, semakin tak ada waktu aku tak memikirkannya. Aku tahu betul dan persis apa yang akan dikatakannya saat aku melewati jalan dengan medan yang rusak, nonton reality show duel masak, makan steak, tom yum, sushi, atau saluran TV apa yang akan diputarnya saat menginap di hotel.

Aku tahu ayahku sudah gak ada, tapi entah, aku masih ingin melihat sosoknya di antara keramaian. Di antara orang-orang yang tak aku kenali wajahnya. Berharap betul sosoknya mengamatiku dari jauh.

Ayah menyetir

“If I could get another chance
Another walk
Another dance with him
I'd play a song that would never ever end
How I'd love, love, love
To dance with my father again”

Tempo hari aku baru saja mengunjungi kota kelahirannya untuk kedua kalinya. Saat kali pertama, aku sungguh gak tahu apakah aku bisa ke sana tanpa harus nangis. Aku gak pernah sama sekali ke sana tanpa ayahku. Ternyata memang gak bisa, tak terkecuali untuk kunjungan yang kedua.

Meski singkat, percakapan yang aku lakukan dengan kakak-adiknya, dan ibunya, bikin aku harus terus menahan air mata. Fitur-fitur wajah yang mereka miliki bikin aku makin kangen ayah.

Aku dan ayah dulu

Apa yang dikatakan nenekku saat kami ngobrol bikin aku gak fokus. Semua fitur wajah ayahku ada di dirinya. Alih-alih fokus merespons, aku kerap memalingkan wajah biar gak kelihatan lagi mau nangis. Di hotel, aku baru bisa meledak. Belum lagi aku memang menginap di hotel langganan tempat kami biasa singgah. Semua jejak dan kenangannya masih ada di sana.

Namun, semakin jauh aku mencari, semakin aku menyadari bahwa bayangannya ternyata tidak perlu jauh kucari.

Aku.

Belakangan, aku baru menyadari intonasi dan komentar yang kerap kulontarkan pada hal-hal kecil yang menyenangkan benar-benar cerminan dirinya. Sejauh apa pun aku mencarinya, ternyata sebagian dari dirinya ada pada diriku.

(´。• •。`) ♡

Di Mana Bayangmu, Ayah?

January 08, 2026

Aku baru saja bangun tidur siang. Ternyata sudah cukup lama semenjak ayah mampir ke mimpiku, bikin aku terbangun dengan emosi yang cukup bergolak.

Kian hari, semakin tak ada waktu aku tak memikirkannya. Aku tahu betul dan persis apa yang akan dikatakannya saat aku melewati jalan dengan medan yang rusak, nonton reality show duel masak, makan steak, tom yum, sushi, atau saluran TV apa yang akan diputarnya saat menginap di hotel.

Aku tahu ayahku sudah gak ada, tapi entah, aku masih ingin melihat sosoknya di antara keramaian. Di antara orang-orang yang tak aku kenali wajahnya. Berharap betul sosoknya mengamatiku dari jauh.

Ayah menyetir

“If I could get another chance
Another walk
Another dance with him
I'd play a song that would never ever end
How I'd love, love, love
To dance with my father again”

Tempo hari aku baru saja mengunjungi kota kelahirannya untuk kedua kalinya. Saat kali pertama, aku sungguh gak tahu apakah aku bisa ke sana tanpa harus nangis. Aku gak pernah sama sekali ke sana tanpa ayahku. Ternyata memang gak bisa, tak terkecuali untuk kunjungan yang kedua.

Meski singkat, percakapan yang aku lakukan dengan kakak-adiknya, dan ibunya, bikin aku harus terus menahan air mata. Fitur-fitur wajah yang mereka miliki bikin aku makin kangen ayah.

Aku dan ayah dulu

Apa yang dikatakan nenekku saat kami ngobrol bikin aku gak fokus. Semua fitur wajah ayahku ada di dirinya. Alih-alih fokus merespons, aku kerap memalingkan wajah biar gak kelihatan lagi mau nangis. Di hotel, aku baru bisa meledak. Belum lagi aku memang menginap di hotel langganan tempat kami biasa singgah. Semua jejak dan kenangannya masih ada di sana.

Namun, semakin jauh aku mencari, semakin aku menyadari bahwa bayangannya ternyata tidak perlu jauh kucari.

Aku.

Belakangan, aku baru menyadari intonasi dan komentar yang kerap kulontarkan pada hal-hal kecil yang menyenangkan benar-benar cerminan dirinya. Sejauh apa pun aku mencarinya, ternyata sebagian dari dirinya ada pada diriku.

(´。• •。`) ♡

One Chocolate Eater